Kupang,-Musik adalah bahasa universal yang mampu menyentuh hati, namun tak semua orang mampu merasakannya dalam kedalaman yang sama. Ada banyak orang yang pandai memainkan alat musik, menciptakan lagu, atau menulis, namun hanya sedikit yang mampu menyentuh inti dari apa yang mereka ciptakan. Mengapa? Karena tidak semua orang memberi ruang untuk doa dan refleksi dalam karya mereka. Ini adalah perbedaan yang mencolok antara seorang ahli yang sekadar menguasai teknis, dengan seorang seniman yang menciptakan dari kedalaman jiwa.
Pada tahun 1999, saya bergabung dengan seorang maestro yang mengajarkan saya lebih dari sekadar musik. Dia adalah Sirilus Wali, seorang figur yang bukan hanya menguasai nada-nada liturgi, tetapi juga memahami bahwa musik adalah medium doa dan refleksi. Setiap detak musik yang dihasilkan bukan hanya sekadar irama, melainkan sebuah komunikasi dengan Yang Maha Kuasa. Dari beliau saya belajar bahwa setiap karya seni, terutama musik, tidak hanya dihasilkan oleh kemampuan teknis semata, tetapi juga oleh jiwa yang memahaminya.
Sirilus Wali adalah nama yang tidak asing di dunia musik liturgi. Namun, bagi saya pribadi, beliau lebih dari sekadar seorang maestro. Beliau adalah seorang guru hidup, yang mengajarkan pentingnya kesadaran dalam setiap langkah, tidak hanya dalam berkarya, tetapi juga dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap kali beliau dimintai komentar, kalimat-kalimatnya selalu terasa bijak, namun tajam dan penuh makna. Ada pesan yang mendalam dalam setiap kata yang beliau ucapkan. Bagi Pak Sirilus, musik bukanlah sekadar rangkaian nada, tetapi cara untuk berbicara kepada dunia dan, yang lebih penting, kepada Tuhan.
Pada masa-masa awal saya bergabung di dunia musik liturgi, sering kali saya merasa kebingungan. Musik itu indah, namun bagaimana menghubungkan keindahan itu dengan hidup yang nyata, dengan emosi yang sering kali terpendam? Beliau mengajarkan saya bahwa musik adalah sarana yang memungkinkan kita berbicara dengan hati, dengan jiwa yang mendalam. Tak jarang, beliau mengingatkan kami untuk berdoa sebelum bermain musik, untuk menyatu dengan lagu yang akan dibawakan, dan untuk memahami setiap kata yang dinyanyikan. Ini bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi tentang menghidupkan makna yang terkandung dalam setiap melodi.
Doa dan Refleksi: Kunci untuk Berkarya dengan Jiwa
Salah satu hal yang paling saya pelajari dari Pak Sirilus adalah pentingnya doa dan refleksi dalam berkarya. Musik, tulisanku, bahkan hidupku tidak bisa dipisahkan dari refleksi dan introspeksi diri. Tanpa keduanya, apa yang kita ciptakan hanya akan menjadi rangkaian kosong. Banyak orang dapat menciptakan lagu atau tulisan, namun hanya sedikit yang bisa benar-benar mengalirkan jiwa mereka ke dalam karya tersebut. Doa dan refleksi memberikan kedalaman yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan. Tanpa itu, karya yang dihasilkan hanya akan terasa dangkal dan kehilangan maknanya.
Sebagai contoh, ketika Pak Sirilus mengajarkan kami untuk memainkan lagu-lagu liturgi, beliau tidak sekadar memberi petunjuk teknis. “Jangan hanya bermain, tetapi rasakan setiap notanya,” ujarnya dengan tegas. Itu adalah momen yang membuka mata saya. Ternyata, musik liturgi bukan hanya soal mematuhi aturan, tetapi tentang merasakan kekuatan doa dalam setiap kata dan nada. Musik menjadi lebih dari sekadar seni, itu adalah cara untuk menyampaikan doa yang penuh pengharapan.
Dari Pak Sirilus, saya belajar bahwa karya seni yang lahir dari doa dan refleksi tidak hanya menyentuh diri kita sebagai pencipta, tetapi juga orang lain yang mendengarkannya. Setiap kata yang tertulis, setiap lagu yang diciptakan, haruslah datang dari perasaan yang jujur, yang berakar dalam kedalaman hati. Tanpa refleksi, kita hanya akan menulis atau mencipta tanpa makna. Karya yang datang dari refleksi, sebaliknya, bisa menyentuh jiwa orang lain dengan cara yang tidak terduga.
Menulis tentang Pak Sirilus, tentang apa yang saya pelajari dari beliau, adalah bentuk penghormatan saya terhadap nilai yang beliau tanamkan. Bukan hanya tentang musik, tetapi tentang hidup itu sendiri. Dalam setiap melodi, setiap lagu, dan setiap tulisan, ada doa dan refleksi yang tertanam di dalamnya. Itu yang membuat karya menjadi abadi dan bermakna.
Kita semua bisa mencipta—baik itu tulisan, lagu, atau karya seni lainnya—tapi yang membedakan adalah bagaimana kita menghadirkan jiwa dalam karya tersebut. Pak Sirilus Wali mengajarkan bahwa musik bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi tentang doa, refleksi, dan kesadaran diri. Karya yang lahir dari kedalaman jiwa, yang dipandu oleh doa dan refleksi, akan selalu memiliki kekuatan yang lebih besar daripada sekadar rangkaian kata atau notasi. Ini adalah pelajaran hidup yang sangat berarti dan menginspirasi, yang harus terus diwariskan dan dipahami oleh setiap generasi.( Arnold)

Tinggalkan Balasan