Kefamenanu – Kasus pengrusakan pagar kawat duri yang dilaporkan Petronela Tilis ke Polsek Noemuti masih dalam proses hukum, tetapi masalah serupa kembali terjadi. Kali ini, lebih parah. Di pertengahan Februari 2025, sejumlah pohon pepaya siap panen, puluhan hingga ratusan tanaman singkong, serta pagar kawat duri di dua titik lokasi Tfoen, Desa Popnam, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara, habis dibabat oleh orang tak dikenal (OTK).
Informasi ini disampaikan oleh Elfrida Kuriun, anak Petronela Tilis, kepada media pada Sabtu (1/3/2025). Ia mengungkapkan bahwa keluarganya baru menyadari kejadian itu ketika hendak mengambil bunga pepaya dan ubi kayu dari kebun mereka di Tfoen. Namun, yang ditemukan justru pemandangan yang memilukan—pepaya dan singkong sudah tumbang, serta pagar kawat duri yang sebelumnya berdiri kokoh kini rusak parah.
Elfrida menjelaskan bahwa terdapat 18 pohon pepaya di kebun mereka, dan 8 di antaranya sudah siap panen. Namun, semua itu telah ditebang tanpa jejak pelaku. Tak hanya itu, puluhan pohon singkong yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka juga habis terbabat. Parahnya lagi, setelah pagar dirusak, sapi-sapi masuk dan memakan habis tanaman singkong yang tersisa.
“Sapi-sapi itu masuk melalui titik pengrusakan pagar kawat duri di bagian depan dan belakang,” ungkap Elfrida. Ia menduga bahwa perusakan pagar ini disengaja agar hewan ternak bisa masuk dan merusak kebun mereka.
Jarak antara rumah mereka di Hueknutu, Oemeu, dengan kebun di Tfoen memang cukup jauh, sehingga kejadian ini tidak langsung diketahui. Baru setelah mereka berencana memanen hasil kebun, mereka mendapati bahwa sumber penghidupan mereka telah hancur.
“Kami biasanya menjual hasil kebun, seperti pepaya dan ubi kayu, ke pasar Kefa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang, setelah semua dirusak, kami hanya bisa mengandalkan jualan sayur selada air,” tambah Elfrida dengan nada sedih.
Menindaklanjuti informasi tersebut, tim media ini melakukan investigasi langsung ke lokasi kejadian di Tfoen. Dari hasil pantauan, terlihat bahwa pagar kawat duri memang telah dirusak di dua titik. Tanaman pepaya dan singkong yang tersisa pun tampak sudah tidak bernilai jual, membuat keluarga Petronela semakin terpuruk.
Setelah mendapatkan bukti-bukti di lokasi, tim media kemudian bergerak ke kediaman Petronela Tilis di Hueknutu, Oemeu. Di sana, Petronela dan anak-anaknya mengungkapkan bahwa laporan polisi yang mereka buat merupakan langkah terakhir setelah berbagai persoalan yang mereka alami mencapai puncaknya.
“Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, kami sudah menghadapi beberapa persoalan besar,” ungkap Petronela.
Menurutnya, permasalahan pertama muncul saat terjadi dugaan penyerobotan sawah mereka di lokasi Tfoen oleh seorang terlapor bernama Blasius Lopis. Kasus lain menyusul, yakni dugaan penyerobotan lahan di Ulumnut yang berbatasan dengan sungai kecil (Lolok).
Tak hanya itu, mereka juga menghadapi persoalan ketiga yang terjadi di kebun berbeda, masih berkaitan dengan terlapor yang sama.
“Dan kejadian keempat inilah yang paling parah. Pengrusakan pagar kawat duri ini adalah puncaknya, sehingga kami terpaksa menempuh jalur hukum,” tegas Elfrida.
Saat ini, laporan polisi terkait pengrusakan pagar kawat duri sudah dalam proses di Polsek Noemuti. Namun, dengan kejadian baru ini, Petronela Tilis dan keluarganya berharap ada tindakan tegas dari pihak kepolisian untuk mengungkap pelaku yang sebenarnya.
“Kami hanya ingin keadilan. Kami sudah cukup menderita dengan semua ini,” pungkas Elfrida.
Kasus ini menjadi potret nyata bagaimana konflik tanah dan kepemilikan lahan masih menjadi masalah serius di berbagai daerah. Apakah aparat penegak hukum mampu mengungkap siapa dalang di balik pengrusakan ini? Waktu yang akan menjawab.

Tinggalkan Balasan