Kupang, -Di sebuah sudut timur Indonesia, di tengah hangatnya angin musim kering Kota Kupang, terdapat sebuah sekolah negeri yang tak sekadar mencetak angka kelulusan, melainkan merawat harapan. UPTD SMP Negeri 6 Kota Kupang, di bawah kepemimpinan A. Beny Mauko, menjelma menjadi ruang pembelajaran yang bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga membentuk karakter, merawat lingkungan, dan menghidupkan nilai gotong royong.
Tahun ini, sebanyak 253 siswa dari sekolah tersebut dipastikan lulus seratus persen. Beny Mauko menyatakan dengan yakin bahwa kelulusan adalah wewenang penuh pihak sekolah, dan pihaknya sudah menimbang secara cermat setiap aspek dalam menentukan keputusan ini. “Anak-anak sudah melalui proses. Masa depan mereka adalah hasil dari jalan yang mereka tempuh sendiri,” ujar Beny dengan nada filosofis.
Pengumuman kelulusan akan digelar pada 2 Juni 2025, yang sekaligus akan menjadi momen perpisahan dan pelepasan siswa bersama orang tua dan guru. Yang unik, perpisahan ini tanpa pungutan sepeser pun dari orang tua murid. “Kami tidak ingin ada kesan pelanggaran atau beban bagi wali murid. Semua kami kelola secara mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujar Beny.
Biaya kegiatan perpisahan justru diambil dari kegiatan prakarya siswa, khususnya dalam bentuk memasak. Dulu, para siswa biasa memasak dan menyajikan makanan dari ruang ke ruang untuk guru-guru. Kini, pendekatannya lebih modern: para siswa diajak belajar marketing, menjual hasil masakan mereka kepada guru-guru secara langsung. Uang yang terkumpul disimpan dan digunakan untuk biaya kegiatan perpisahan. “Anak-anak belajar nilai ekonomi, kebersamaan, dan kreativitas dalam satu waktu,” tambah Beny.
Di sisi lain, UPTD SMPN 6 juga tengah bersiap menyambut peserta didik baru dengan kapasitas maksimal 11 rombongan belajar (rombel), atau setara 352 siswa. Sistem penerimaan dilakukan dengan mengikuti petunjuk teknis dari dinas pendidikan melalui mekanisme SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru). Proses seleksi akan digelar transparan dan terstruktur, memastikan semua berjalan adil dan sesuai regulasi.
Namun bukan hanya soal akademik dan administratif, sekolah ini juga memberi perhatian khusus pada kebersihan dan lingkungan. “Kami sudah bersih bahkan sebelum program pemerintah kota diluncurkan,” kata Beny bangga. Prinsipnya sederhana tapi kuat: setiap langkah, pungut sampah. Daun-daun kering yang jatuh di halaman sekolah bukan hanya dikumpulkan, tapi diolah kembali menjadi kompos atau media tanam. “Kami ingin anak-anak tahu bahwa bekerja dan berkarya untuk sekolah adalah bagian dari tanggung jawab moral,” ujarnya kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (21/05/2025).
Keteladanan ini menyiratkan pesan yang lebih dalam: bahwa sekolah bukan sekadar tempat mendidik, tetapi ladang tempat nilai-nilai luhur ditanam dan dipanen. Di tengah tantangan dunia pendidikan yang makin kompleks, UPTD SMPN 6 Kota Kupang memilih jalan yang bermakna—berpijak pada nilai, berjalan dengan integritas, dan tumbuh dengan kreativitas.

Tinggalkan Balasan