Kupang, -Udara pagi yang sejuk di Naimata menjadi saksi bisu momen penuh makna antara pemimpin dan rakyat. Di balik deretan kursi umat dan altar sederhana Gereja Stasi Katolik Santo Fransiskus Xaverius Naimata, tersimpan sebuah peristiwa yang melampaui rutinitas birokrasi: perjumpaan yang menyalakan harapan dan meneguhkan iman.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, hadir secara langsung dalam perayaan misa Minggu pagi (29/6), membawa serta bukan hanya dukungan finansial, tetapi juga kehadiran yang menyentuh batin umat. Dengan menyerahkan bantuan senilai Rp50 juta dari Anggaran Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Kota Kupang, ia mengukuhkan komitmen bahwa pembangunan spiritual masyarakat adalah bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan kota.
“Pemerintah bukan hanya membangun jalan dan gedung, tapi juga membangun manusia. Termasuk memberi ruang bagi umat untuk bertumbuh dalam iman dan kebersamaan,” ujar Wali Kota dalam sambutannya yang disampaikan penuh ketulusan di hadapan umat.
Bantuan tersebut, jelasnya, merupakan bagian dari alokasi yang diberikan kepada rumah-rumah ibadah lintas agama di seluruh penjuru Kota Kupang. Ia tak lupa menyampaikan apresiasi kepada tim Kesra yang terus mendampinginya menapaki jejak pelayanan spiritual, termasuk Ibu Ivan Milameha dan Bapak Joni Bire yang disebutnya sebagai mitra dalam misi sosial keagamaan.
Mengalihkan Kemewahan Demi Rakyat
Wali Kota Christian Widodo menegaskan bahwa di tengah keterbatasan fiskal, Pemerintah Kota Kupang mengambil langkah berani: memangkas anggaran perjalanan dinas hingga 50 persen dan membatalkan pengadaan mobil dinas baru senilai Rp1,6 miliar. Dana tersebut, menurutnya, lebih layak dialihkan untuk mendukung sektor-sektor krusial seperti pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, dan pembangunan rumah ibadah.
“Ini bukan soal pengorbanan, tapi soal keberpihakan. Kami memilih bersama rakyat daripada sekadar memenuhi simbol kekuasaan,” ungkapnya, disambut tepuk tangan hangat dari umat.
Bantuan yang disalurkan ke Stasi Naimata diharapkan dapat mempercepat pembangunan rumah pastoral dan aula kegiatan umat, menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda dan ladang penguatan komunitas di kawasan pinggiran kota.
Doa sebagai Hadiah Terindah
Romo Frans Atamau, Pr., Co Pastor Stasi Naimata, dengan suara bergetar menyambut kehadiran Wali Kota yang menurutnya membawa sukacita mendalam bagi umat. Meski kabar kunjungan baru diterima malam sebelumnya, umat menyambut dengan antusias sejak fajar menyingsing.
“Kehadiran seorang pemimpin bukan hanya menggerakkan roda pemerintahan, tetapi juga membangkitkan semangat hidup,” ujar Romo Frans, seraya menambahkan bahwa meski tak memiliki banyak untuk diberikan, ia menawarkan sesuatu yang tak ternilai: doa.
Dalam keterbatasan, kata Romo Frans, umat tetap memilih mendoakan pemimpinnya setiap hari. Baginya, doa adalah bentuk dukungan spiritual tertinggi yang dapat menopang beban pelayanan seorang kepala daerah.
“Saya tak membawa daftar permintaan. Yang saya bawa hanyalah janji: doa kami menyertai Bapak Wali Kota setiap pagi. Kami berdoa agar Bapak diberi kekuatan, kebijaksanaan, dan hati yang selalu berpihak kepada yang kecil,” tuturnya dengan penuh kelembutan.
Merawat Kedekatan, Menyemai Harapan
Pertemuan di Naimata bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol kuat bahwa pemerintahan yang merakyat bukanlah mitos. Bahwa perhatian terhadap komunitas kecil di pinggiran kota dapat menjadi landasan kokoh pembangunan yang berkeadilan.
“Semoga ini bukan akhir, tetapi awal dari relasi yang terus tumbuh antara pemerintah dan umat,” tutup Romo Frans.
Di tengah dunia yang sering kali terjebak pada formalitas dan laporan-laporan kaku, kehadiran seorang wali kota di bangku gereja kecil seperti Naimata menjadi pengingat: kekuasaan yang menyentuh hati akan selalu meninggalkan jejak lebih dalam daripada kebijakan yang hanya menghiasi dokumen.

Tinggalkan Balasan