Kupang, — Dalam sebuah seremoni adat penuh makna, keluarga besar Sonbai secara resmi menyambut Komandan Korem 161/Wira Sakti yang baru, Brigjen TNI Hendro Cahyono, dengan ritual adat “Naijuf Keneno” — sebuah filosofi warisan leluhur Timor yang berarti pantang lari.
Bagi masyarakat Timor, pemimpin bukan orang asing, melainkan anak sendiri yang wajib didukung sepenuh hati.
Ritual adat yang berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2025, menandai dimulainya pengabdian Danrem baru di Bumi Flobamora. Prosesi penyematan posu—ikat pinggang perang khas Timor Tengah Selatan—menjadi simbol kesiapan dan tekad untuk melayani serta bertempur demi tanah Timor, jika dibutuhkan.

Dr. Sulastri Benufinit kepada wartawan menjelaskan bahwa setiap pergantian pimpinan, keluarga Sonbai selalu menggelar ritual adat sebagai bentuk penerimaan dan komitmen untuk bersinergi. “Kami tidak menganggap Danrem sebagai orang luar. Beliau anak kami sendiri. Karena itu, ia tidak akan menghadapi hambatan dalam tugasnya ke depan,” ujarnya.

Pernyataan itu diperkuat oleh tokoh adat Welem Sonbai yang didampingi Ernie Sonbai. “Sonbai bukan hanya raja, tapi juga pejuang. Kami siap bekerjasama dan mendukung penuh TNI, demi masa depan Timor dan NTT,” kata Welem di hadapan para wartawan.
Tradisi penerimaan ini tidak sekadar seremonial budaya, melainkan bentuk nyata dari semangat kebangsaan yang hidup di akar rumput. Kain motif khas Timor Tengah Selatan yang dibalutkan dalam acara tersebut melambangkan cinta dan kasih, harapan agar Danrem yang baru mampu mengabdi dengan hati di tanah leluhur yang sarat sejarah perjuangan.
Orang Timor percaya, secara adat dan budaya, mereka adalah “buaya”—mengacu pada legenda asal usul pulau Timor yang konon terbentuk dari seekor buaya raksasa.
Simbol ini mencerminkan kekuatan, kesetiaan, dan keuletan para raja Timor yang hingga kini masih diyakini sebagai leluhur dan pelindung tanah ini.
Dalam momentum tersebut, semangat nasionalisme kembali ditegaskan: NKRI harga mati. Sinergi antara Korem 161/Wira Sakti dengan masyarakat adat diyakini akan menjadi fondasi kokoh dalam menjaga stabilitas keamanan dan mengakselerasi pembangunan di wilayah Nusa Tenggara Timur.
“Selamat datang dan selamat berkarya di tanah Timor. Dalam duka dan suka, kami tetap berdiri dan berjuang bersama. Tanah ini milik kita semua,” tutup Welem Sonbai dalam nuansa haru dan penuh harapan.

Tinggalkan Balasan