Para Sopir Menginap di SPBU, Berebut Solar yang Kian Langka

Kupang — Kelangkaan solar di Kota Kupang memasuki babak yang kian memprihatinkan. Di sejumlah SPBU, antrean truk dan mobil angkutan mengular sejak sore hingga larut malam. Sebagian sopir memilih bermalam di dalam kendaraan, berharap subuh hari mereka kebagian sedikit bahan bakar.

Albertus Nesi, salah satu sopir yang ikut mengantre, menyaksikan sendiri bagaimana rekan-rekannya harus menahan kantuk dan lapar semalaman demi solar yang pada akhirnya hanya bisa dibeli senilai Rp150 ribu per kendaraan.

“Teriakan lapar itu bukan dibuat-buat. Kami sudah menunggu lama, tapi dapatnya hanya segitu,” kata Albertus lirih saat ditemui di area SPBU.

Suasana mencekam itu terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, para sopir terdengar melontarkan keluhan sambil sesekali bersandar pasrah di bodi truk. Kelangkaan solar membuat pekerjaan mereka lumpuh, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Di sisi lain kota, antrean lain juga tak kalah panjang. Kali ini bukan sopir, melainkan ibu-ibu yang mencari minyak tanah, komoditas yang ikut langka menjelang Natal dan Tahun Baru. Gambarannya sama: wajah gelisah, antrean tak berujung, dan rasa cemas yang menumpuk setiap jamnya.

“Kalau memang harus naik harga, naik saja. Yang penting barangnya ada,” ujar seorang sopir yang enggan disebut namanya. Ucapan itu menggambarkan tingkat kepasrahan yang melampaui lelah.

Situasi ini mengingatkan Albertus pada pengalaman masa pandemi Covid-19. Saat itu ia pernah mewawancarai seorang pedagang bakso yang duduk termenung di pelataran Taman Nostalgia—tempat yang biasanya ramai, namun mendadak kosong karena pembatasan sosial.

Ketika ditanya apakah ia tak takut tertular Covid-19, jawaban sang pedagang membuatnya terdiam.

“Saya lebih takut dering ponsel istri yang minta biaya anak-anak daripada Covid-19,” katanya waktu itu.

Pernyataan tersebut kembali terngiang hari ini, saat para sopir memperjuangkan solar di tengah malam. Ketakutan mereka bukan pada penyakit, bukan pula pada cuaca buruk, melainkan pada ketidakmampuan membawa pulang nafkah.

Kelangkaan solar yang berulang setiap menjelang hari raya kini menjadi potret buram kehidupan masyarakat kecil—mereka yang berada di garis paling depan menghadapi dampak dari setiap kegagalan pasokan energi.

Masyarakat berharap pemerintah segera menuntaskan isu distribusi dan pasokan. Di tengah antrean yang tak kunjung terurai, yang tersisa hanyalah doa dan harapan.

Semoga kelangkaan ini segera berakhir

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *