Kupang — Penantian panjang warga di perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang akhirnya mulai terjawab. Ruas jalan Mollo–Sunjam yang berada di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, kini mulai dihotmix setelah bertahun-tahun dibiarkan rusak sejak Kota Kupang terbentuk. Pengerjaan fisik jalan tersebut dimulai pada Jumat, 19 Desember 2025.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas padat di sepanjang ruas jalan. Ratusan petugas bersama berbagai jenis kendaraan berat terlihat sibuk mengerjakan jalan sepanjang kurang lebih empat kilometer hingga mencapai batas wilayah Kabupaten Kupang. Truk pengangkut material hotmix hilir mudik, sementara para pekerja meratakan aspal di setiap sudut jalan yang selama ini menjadi keluhan warga.
Di lokasi pekerjaan juga terpasang papan proyek bertuliskan Paket Pekerjaan Preservasi Jalan Titus Nau, Jalan Mollo–Sunjam, dan Jalan Mollo–Oetun di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Proyek ini memiliki Nomor Kontrak HK.0203-bpjn.11.6.1/850 dengan tanggal kontrak 3 Desember 2025.
Nilai kontrak proyek tersebut mencapai Rp22.272.477.000, bersumber dari APBN murni. Pelaksanaan pekerjaan dipercayakan kepada PT Amar Jaya Pratama Group sebagai kontraktor pelaksana, dengan PT Arci Pratama Konsultan bertindak sebagai konsultan pengawas. Waktu pelaksanaan ditetapkan selama 29 hari kalender, disertai masa pemeliharaan selama 365 hari kalender.
Ruas Mollo–Sunjam selama ini dikenal sebagai jalur penghubung penting antara Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Kondisinya yang rusak—berlubang, berdebu saat musim kemarau, dan licin saat hujan—sering menghambat mobilitas warga serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
“Sudah lama sekali kami berharap jalan ini diperbaiki. Sekarang akhirnya bisa lihat sendiri,” ujar seorang warga Kelurahan Fatukoa yang hampir setiap hari melintasi jalur tersebut untuk bekerja.
Pengerjaan hotmix ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, tetapi juga memperlancar aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah perbatasan. Jalan Mollo–Sunjam menjadi akses vital bagi distribusi barang, hasil pertanian, serta pergerakan warga antarwilayah.
Hingga Jumat sore, proses pengaspalan masih terus berlangsung. Sejumlah warga tampak memperlambat kendaraan, bahkan berhenti sejenak untuk menyaksikan perubahan jalan yang selama bertahun-tahun mereka keluhkan. Bagi masyarakat setempat, hamparan aspal di Mollo–Sunjam bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan tanda bahwa wilayah yang lama terabaikan kini mulai mendapat perhatian nyata.

Tinggalkan Balasan