Angka Fantastis Pameran Pembangunan NTT 2026: 120.260 Kunjungan, UMKM Kantongi Rp5,90 Miliar

KUPANG – Pameran Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 2026 ternyata bukan sekadar panggung untuk memamerkan hasil pembangunan daerah.
Di balik ramainya kawasan pameran selama 15–24 Agustus 2026, terjadi perputaran ekonomi yang cukup besar.

Hasil Survei Dampak Ekonomi Pameran Pembangunan NTT 2026 memperkirakan 120.260 kunjungan dengan total pengeluaran pengunjung mencapai sekitar Rp6,07 miliar.

Lebih dari itu, aktivitas ekonomi yang tercipta menghasilkan estimasi Rp6,02 miliar pendapatan usaha, yang mengalir kepada sekitar 700 pelaku UMKM, termasuk usaha parkir.

Namun angka yang paling menarik muncul dari analisis dampak ekonomi menggunakan Tabel Input-Output (I-O).

Aktivitas ekonomi yang tercipta selama pameran diperkirakan memberikan efek multiplier terhadap output perekonomian NTT sebesar Rp8,34 miliar.

Artinya, transaksi yang berlangsung selama pameran tidak berhenti di lokasi kegiatan. Aktivitas tersebut ikut memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor ekonomi lainnya, terutama industri pengolahan, perdagangan dan jasa, termasuk jasa hiburan.

120 Ribu Pengunjung, Rata-Rata Belanja Rp50 Ribu

Dengan jumlah kunjungan yang diperkirakan mencapai 120.260 orang, rata-rata pengeluaran pengunjung berada di kisaran Rp50 ribu setiap kunjungan.

Angka ini menunjukkan bahwa keramaian pameran juga beriringan dengan aktivitas transaksi ekonomi masyarakat.

Sektor kuliner menjadi motor utama. Dari peserta UMKM yang disurvei, sekitar 63,88 persen bergerak di bidang penyediaan makanan dan minuman.

Kemudian perdagangan eceran bukan kendaraan bermotor sebesar 12,32 persen, jasa hiburan 11,33 persen, dan industri pengolahan makanan 10,34 persen.

Dengan komposisi tersebut, pameran menjadi ruang yang sangat dekat dengan aktivitas konsumsi masyarakat, sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen.

UMKM Muda Ikut Menangkap Peluang
Pameran 2026 juga diikuti pelaku usaha yang relatif baru.

Sekitar 49,39 persen UMKM peserta telah beroperasi 1–3 tahun. Sementara usaha berusia 4–5 tahun mencapai 17,53 persen, lebih dari lima tahun 17,03 persen, dan usaha yang baru berdiri kurang dari satu tahun sebesar 16,04 persen.

Data ini memperlihatkan bahwa pameran bukan hanya menjadi ruang bagi usaha yang sudah mapan.

Pelaku UMKM muda juga mendapatkan kesempatan untuk menguji produk dan melihat langsung respons pasar.

Pameran Ikut Mendorong Tenaga Kerja
Dampak lain terlihat dari kebutuhan tenaga kerja selama kegiatan.

Pada sektor makanan dan minuman, rata-rata jumlah tenaga kerja meningkat dari 1,79 orang di luar masa pameran menjadi 2,48 orang selama pameran.

Peningkatannya sekitar 38 persen.

Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan tambahan tenaga kerja ketika aktivitas konsumen meningkat selama penyelenggaraan pameran.

Informasi Pameran Lebih Banyak Menyebar dari Teman dan Media Sosial
Ada fakta lain yang cukup menarik.

Sebanyak 50,28 persen peserta UMKM mengetahui informasi pameran melalui teman atau kenalan, sedangkan 48,33 persen melalui media sosial.

Sementara informasi yang diterima langsung dari staf instansi pemerintahan hanya sekitar 1,40 persen.

Temuan ini memperlihatkan besarnya peran jaringan sosial dan media digital dalam menarik partisipasi pelaku usaha.
Ada Rp124,32 Juta Pendapatan dari OPD
Tidak hanya UMKM yang memperoleh manfaat ekonomi.

Dari lima perangkat daerah yang memberikan data, pendapatan yang dihimpun dari produk maupun layanan yang diberikan selama pameran diperkirakan mencapai Rp124,32 juta.

Nilai tersebut sekitar dua persen dari total pendapatan usaha yang tercipta selama kegiatan.

Meski mencatat angka ekonomi yang cukup besar, hasil kajian juga memberikan catatan penting.

Survei dilakukan terhadap 568 pengunjung, 93 peserta UMKM termasuk pengelola parkir, serta lima peserta non-UMKM dari perangkat daerah.

Data ekonomi yang dianalisis belum mencakup seluruh aktivitas ekonomi yang mungkin terjadi selama pameran.

Selain itu, responden pengunjung belum sepenuhnya merepresentasikan seluruh karakteristik pengunjung karena sebagian besar diperoleh melalui tautan survei yang disebarkan di grup WhatsApp, sementara kendala jaringan internet dan penolakan responden juga menjadi faktor dalam pengumpulan data.

Karena itu, efek multiplier Rp8,34 miliar merupakan hasil estimasi berdasarkan data aktivitas ekonomi yang berhasil dihimpun dan dianalisis, bukan angka yang dimaksudkan untuk menggambarkan seluruh manfaat ekonomi pameran secara komprehensif.

Dari Seremonial Menuju Penggerak Ekonomi

Hasil kajian memberikan gambaran bahwa Pameran Pembangunan NTT 2026 memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar agenda tahunan.

Ada promosi pembangunan, transaksi UMKM, interaksi masyarakat, aktivitas tenaga kerja, promosi produk daerah hingga efek ekonomi lanjutan.

Dengan evaluasi berbasis data, penyelenggaraan pameran berikutnya dapat diarahkan semakin kuat sebagai ruang promosi UMKM, produk unggulan, budaya dan potensi ekonomi NTT, sekaligus memberikan pengalaman yang lebih baik bagi masyarakat.

120.260 kunjungan. Rp6,02 miliar pendapatan usaha. Rp8,34 miliar estimasi efek multiplier.

Tiga angka ini menjadi gambaran utama geliat ekonomi yang tercatat dari Pameran Pembangunan NTT 2026.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *