“Tak Bergeming, Nenek Petronela : Keadilan Tidak Bisa di Tawar!”

NTT,-Kasus perusakan pagar kawat yang melibatkan Blasius Lopis, seorang pensiunan guru, dan Nenek Petronela Tilis, seorang warga desa yang merasa terintimidasi, kini menjadi sorotan publik. Meskipun telah ada berbagai upaya damai melalui Restoratif Justice, Nenek Petronela tidak bergeming. Dia menegaskan, “Saya tidak akan mundur. Saya ingin keadilan, bukan sekadar perdamaian.”

Keputusan Nenek Petronela untuk tidak menerima tawaran perdamaian menggugah hati. Bagi Nenek Petronela, ini bukan sekadar soal pagar yang dirusak, tetapi tentang penghormatan terhadap hak-haknya sebagai warga negara yang dipandang sebelah mata. “Kami sering dianggap rendah, miskin, dan tak berpengaruh. Namun hukum harus tetap berlaku adil tanpa melihat status sosial,” ujarnya.

Ini adalah lebih dari sekadar kasus hukum; ini adalah perjuangan untuk menegakkan keadilan sosial di tengah ketidaksetaraan yang kerap terjadi di masyarakat. Nenek Petronela menjadi simbol keberanian bagi mereka yang sering merasa terpinggirkan.

Kasus ini kini telah resmi masuk dalam proses hukum di Polres Timor Tengah Utara dan akan dijalani sesuai dengan hukum yang berlaku. Nenek Petronela percaya bahwa proses hukum akan memberikan kepastian dan keadilan bagi semua pihak.

Apakah hukum akan benar-benar berpihak kepada mereka yang selama ini terabaikan? Kita tunggu kelanjutan kisah perjuangan Nenek Petronela. Ini bukan sekadar soal pagar yang dirusak; ini adalah soal siapa yang akan diberi suara di tengah ketidakadilan sosial yang telah lama ada! #KeadilanUntukSemua #PerjuanganHukum #HukumAdil

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *