KUPANG – Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menghadapi bencana banjir yang terus menghantui warganya setiap musim hujan. Pemukiman rusak, lahan pertanian hancur, dan infrastruktur lumpuh! Kondisi ini membuat Pemkab TTS menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II untuk memberikan solusi nyata dan permanen.
Dalam pertemuan darurat di Kupang pada Rabu (8/1/2025), Penjabat Bupati TTS, Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si, tak tanggung-tanggung melontarkan permintaan tegas. Ia meminta perhatian penuh terhadap kerusakan yang meluas akibat banjir, khususnya di Sungai Linamnutu dan Sungai Noemuke. Bahkan, ia menyoroti pilar Jembatan Fatukopa yang kini dalam kondisi genting.
“Kita tidak butuh janji-janji lagi! Proteksi pilar Jembatan Fatukopa harus dilakukan segera, atau kita akan kehilangan akses vital yang menghubungkan Kota Soe dengan Mollo Barat. Sungai Linamnutu juga terus menenggelamkan rumah dan ladang warga!” tegas Seperius Sipa.
Pemkab TTS menyerukan pembangunan bronjong di titik-titik rawan dan meminta bendungan pengendali di Sungai Noemuke. Banjir di Bena telah menghancurkan mata pencaharian warga selama bertahun-tahun, dan kerugian terus bertambah.
“Tindakan darurat tidak lagi cukup! Kami butuh solusi jangka panjang agar masyarakat bisa hidup tanpa dihantui banjir setiap tahun,” ujar Sipa dengan penuh harap.
Kris M.B. Lake, Kepala Bagian Tata Usaha BBWS Nusa Tenggara II, memastikan pihaknya akan mempelajari usulan ini. Namun, apakah janji ini akan terealisasi atau hanya menjadi angin lalu? Bernadeta Tea, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA BBWS, menegaskan pentingnya kolaborasi.
“Kami berkomitmen membantu Pemkab TTS melalui perencanaan terintegrasi. Tapi ini memerlukan dukungan semua pihak untuk menciptakan sistem pengendalian banjir yang benar-benar efektif,” katanya.
Kini kondisi semakin kritis. Warga TTS hidup dalam ketakutan setiap kali hujan deras mengguyur. Tahun demi tahun mereka menyaksikan rumah, ladang, dan harapan mereka tersapu air bah. Jika langkah konkret tidak segera diambil, bencana ini hanya akan menjadi bom waktu yang menghancurkan lebih banyak kehidupan.
Kolaborasi antara Pemkab TTS dan BBWS Nusa Tenggara II harus menjadi awal dari solusi besar. Tidak ada lagi ruang untuk keterlambatan. Warga TTS menuntut aksi nyata—bukan sekadar rencana di atas kertas!( Tim).

Tinggalkan Balasan