Kupang – Jika janji adalah uang, warga Naimata pasti sudah kaya raya. Tapi kenyataan bicara lain. Bertahun-tahun jalan berlubang di Kelurahan Naimata, Kota Kupang, hanya menjadi saksi bisu dari kelalaian pemerintah. Genangan air saat hujan membuat jalan berubah jadi perangkap maut, menjatuhkan pengendara yang hanya ingin pulang dengan selamat.
Namun, warga Naimata tak lagi menunggu. Mereka memilih melawan ketidakpedulian dengan tindakan nyata. Tanpa anggaran negara, tanpa alat berat, mereka menggalang dana seadanya, bahkan menerima Rp10 sekalipun sebagai bentuk kebersamaan. “Kami lelah berharap. Kalau pemerintah tutup mata, kami tidak akan tutup mulut. Ini soal keselamatan kami,” tegas Serfas Taus, warga setempat, Selasa (16/1).
Empat titik paling berbahaya di jalan itu ditambal dengan tangan mereka sendiri. Tanah urukan dan campuran semen menjadi “senjata” melawan lubang yang menganga, seolah menertawakan pengabaian dari pihak berwenang. Dari pria dewasa hingga ibu-ibu dan anak-anak, semua turun tangan. Ada yang membawa alat, mengaduk semen, hingga memberi semangat.
“Kami tahu ini hanya solusi sementara. Tapi daripada terus melihat orang jatuh, kami pilih bertindak. Pemerintah harusnya malu. Infrastruktur itu hak, bukan hadiah,” ujar Maria, salah satu warga yang ikut bergotong royong.
Ironisnya, jalan ini adalah akses penting bagi warga untuk beraktivitas. Namun, pemerintah seolah tutup mata, seakan menunggu korban lebih banyak. “Kami tidak meminta jalan emas, hanya jalan yang layak. Apa itu terlalu sulit untuk diwujudkan?” tambah Maria dengan nada geram.
Aksi warga Naimata ini bukan hanya bentuk solidaritas, tapi juga tamparan telak bagi pemerintah daerah. Di mana anggaran infrastruktur yang selalu disebut-sebut dalam laporan tahunan? Apakah harus selalu ada korban sebelum pemerintah bergerak?
Lubang di jalan Naimata bukan sekadar masalah fisik. Ia adalah simbol dari janji kosong, pengabaian, dan kepedulian yang hilang. Kini, giliran pemerintah untuk menjawab: apakah mereka akan terus menonton dari balik meja, atau akhirnya turun tangan sebelum luka ini semakin dalam?

Tinggalkan Balasan