Kupang,-Kota Kupang kembali membuktikan bahwa toleransi bukan sekadar kata-kata. Perayaan Imlek 2765 yang digelar CV. NAM di Kelurahan Alak, Rabu (29/1/2025), bukan hanya meriah, tetapi juga mengandung pesan yang menohok! Ribuan warga memadati acara ini, membaur dalam semangat kebersamaan lintas budaya.
Tak tanggung-tanggung, tokoh-tokoh penting turut hadir: Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr, anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Pj Wali Kota Kupang Linus Lusi, hingga Ketua PMTSI NTT Hengky Liyanto. Perayaan ini menampilkan tarian khas Kupang dalam balutan budaya Tionghoa—pemandangan yang luar biasa!
Anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto tak ragu menegaskan bahwa Imlek bukan sekadar tahun baru bagi masyarakat Tionghoa, tapi telah menjadi kekayaan budaya Indonesia. “Tadi kita lihat sendiri, tarian khas Kupang dibawakan dalam perayaan ini. Ini bukti bahwa budaya adalah milik bersama!” sentilnya.
Pj Wali Kota Kupang, Linus Lusi, tak kalah lantang. Ia mengapresiasi peran pengusaha Tionghoa dalam pembangunan kota. “Mereka bukan hanya merayakan Imlek, tapi juga membangun ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga Kota Kupang!” ujarnya.
Ketua PMTSI Kota Kupang, Fransisco Bernando Bessi, mengingatkan bahwa Imlek bukan sekadar pesta, tetapi juga momentum merawat toleransi. “Jangan hanya pesta, tapi setelah ini kembali ribut soal perbedaan!” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PMTSI NTT Hengky Liyanto menyentil ramalan-ramalan di tahun Ular Kayu. “Banyak yang meramal akan ada bencana. Saya hanya mau bilang, kalau kita mendekatkan diri kepada Tuhan, ramalan itu tidak ada artinya!” tantangnya.
Perayaan Imlek ini sekali lagi menguji apakah Kota Kupang benar-benar kota toleransi atau hanya sekadar slogan. Saat ribuan warga bersatu dalam perayaan ini?
Satu hal yang pasti, Imlek 2765 di Kupang bukan sekadar perayaan, melainkan pesan kuat: keberagaman adalah kekayaan, dan toleransi bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dijalankan!

Tinggalkan Balasan