Soe, – Malam di Kota Soe semakin suram dengan pemandangan kantor Perumda Air Minum TTS yang lebih menyerupai bangunan terbengkalai daripada kantor pelayanan publik. Berlokasi di Jalan Tien Soeharto Nomor 56, kantor ini menjadi sorotan karena tampak angker dan kumuh akibat minimnya penerangan. Lampu-lampu padam, hanya menyisakan tiang sebagai saksi bisu dari ketidakpedulian pengelola.
“Ini kantor pelayanan atau rumah hantu?!” keluh seorang warga yang enggan disebut namanya. “Seharusnya ini tempat pelayanan publik, tapi justru terlihat kumuh, gelap, dan tidak terawat. Kalau malam hari, orang yang lewat pun bisa salah kira ini bangunan kosong!”
Bukan hanya tampilan kantor yang memprihatinkan, pelayanan air minum pun kacau balau. Sudah hampir satu minggu warga tidak mendapat pasokan air bersih, memaksa mereka membeli air dengan harga selangit, Rp125.000 per satu tangki 5.000 liter.
“Air mati, informasi tidak ada! Ini pelayanan macam apa?” ujar warga dengan nada kesal. “Kami bayar air setiap bulan, tapi ketika krisis seperti ini, tidak ada kejelasan! Kami terpaksa beli air sendiri, padahal ini kebutuhan dasar!”
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: Kemana anggaran pemeliharaan gedung dan transmisi air Perumda TTS? Kenapa fasilitas publik dibiarkan seperti ini tanpa ada perbaikan?
Lebih parahnya lagi, ketika media mencoba menghubungi pihak Perumda TTS untuk konfirmasi, nomor kontak yang tersedia tidak aktif. Hanya centang satu di WhatsApp, menandakan betapa buruknya komunikasi dan tanggung jawab lembaga ini terhadap keluhan masyarakat.
Apakah Pemkab TTS akan tutup mata terhadap kekacauan ini? Sampai kapan masyarakat dibiarkan sengsara tanpa air bersih dan pelayanan yang layak?
Warga menunggu jawaban, atau mungkinkah kita semua hanya akan dibiarkan berteriak di tengah kegelapan?

Tinggalkan Balasan