Kupang, – Dalam Apel Kesadaran ASN di Halaman Kantor Gubernur NTT, Penjabat Gubernur Dr. Andriko Noto Susanto, S.P., M.P. menegaskan bahwa enam bulan kepemimpinannya diwarnai dengan kerja keras dan kolaborasi dalam menuntaskan berbagai persoalan krusial di NTT. Ia mengapresiasi seluruh elemen pemerintah dan masyarakat yang telah bahu-membahu dalam menangani stunting, kemiskinan ekstrem, optimalisasi BUMD, kelancaran Pilkada, serta respons cepat terhadap bencana alam.
NTT masih menghadapi tantangan besar dalam persoalan stunting, dengan angka prevalensi yang mencapai 37,9% berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. Namun, kerja keras melalui Gerakan Kemanusiaan Percepatan Penanganan Stunting Terpadu (GKP2ST) membuahkan hasil.
Berbagai intervensi dilakukan, mulai dari edaran resmi ke 22 kabupaten/kota, Gerakan Orang Tua Asuh, Aplikasi Anting Orta & Anting Mutiara, hingga edukasi di sekolah dan layanan telemedicine. Bahkan, upaya konkret seperti Therapeutic Feeding Center dan distribusi 9.626 paket bansos dari Dana Insentif Fiskal Stunting senilai Rp5,742 miliar telah dijalankan.
Hasilnya? Prevalensi balita stunting menurun dari 19% di Oktober 2024 menjadi 18,6% pada November 2024. Sebuah progres yang membuktikan bahwa dengan gerakan kolektif, perubahan nyata bisa dicapai.
Pj. Gubernur juga menegaskan komitmennya dalam menekan angka kemiskinan ekstrem. Beberapa langkah konkret yang dilakukan:
– 24.557 paket bantuan sosial berisi beras, gula, dan minyak senilai Rp5,59 miliar tersebar ke seluruh NTT.
– Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-KL) untuk 3,19 juta jiwa.
– Bantuan pangan premium 20 kg/KK kepada 6.120 keluarga di 22 kabupaten/kota.
– Bantuan alat tangkap ikan bagi nelayan serta modal usaha Rp10 juta per kelompok bagi 60 Kelompok Usaha Bersama (KUB).
– Program elektrifikasi melalui PLTS untuk 1.659 rumah tangga di Pulau Sumba dan bantuan sumur bor di wilayah rawan kekeringan.
“Kita tidak hanya memberikan bantuan langsung, tapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan pendekatan ini, kemiskinan ekstrem dapat dikurangi secara bertahap,” tegasnya.
Pj. Gubernur menegaskan bahwa Bank NTT tidak boleh turun kelas menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Solusinya? Kerja sama usaha (KUB) dengan Bank Jatim untuk memastikan stabilitas keuangan.
Selain itu, langkah strategis lainnya adalah melantik Direksi PT Kawasan Industri Bolok dan PT Flobamor agar dikelola dengan lebih profesional. “Prinsip Good Corporate Governance (GCG) harus menjadi pegangan utama agar BUMD kita sehat, transparan, dan berkontribusi nyata bagi daerah,” ujarnya.
Dalam penanganan bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, pemerintah pusat dan daerah bertindak cepat. Presiden Prabowo Subianto langsung menggelar rapat terbatas, sementara Wapres Gibran Rakabuming Raka dan para menteri turun langsung ke lokasi bencana.
“Kita bekerja dalam semangat solidaritas dan kolaborasi. Respons cepat ini menunjukkan bahwa kita tidak tinggal diam dalam menghadapi bencana,” kata Pj. Gubernur.
Keamanan dan kelancaran Pilkada Serentak 27 November 2024 juga mendapat apresiasi dari Pj. Gubernur. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja sama antara pemerintah daerah, KPU, Bawaslu, aparat keamanan, dan masyarakat.
Lebih lanjut, ia menyerukan dukungan penuh kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT terpilih, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma. “Saya optimis bahwa di bawah kepemimpinan mereka, NTT akan lebih maju dan sejahtera,” ungkapnya.
NTT, Nusa Terindah Toleransi
Mengakhiri arahannya, Pj. Gubernur menekankan bahwa NTT adalah miniatur Indonesia dengan keberagaman suku, agama, dan budaya. Indeks Kerukunan Umat Beragama yang tinggi menjadi bukti bahwa NTT adalah Nusa Terindah Toleransi.
“Kita harus menjaga nilai-nilai persaudaraan ini, karena itu adalah modal sosial utama dalam membangun daerah yang lebih maju,” tegasnya.
Dengan kerja nyata dan kolaborasi yang solid, NTT terus bergerak maju, menghantam tantangan, dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Tinggalkan Balasan