“Dari Rumah ke Perut Buaya,Apakah Ini Takdir?

Sumba,– Duka mendalam menyelimuti Desa Letekonda, Kecamatan Loura, setelah tragedi memilukan menimpa satu keluarga. Seorang ibu dan anaknya menjadi korban keganasan buaya di Sungai Ledewero, hanya dalam selang beberapa jam. Peristiwa ini menggemparkan warga dan menjadi alarm keras bagi keselamatan masyarakat sekitar perairan liar di Nusa Tenggara Timur.

Rabu siang (5/2/2025), Albina Doki (64) bersama suaminya turun ke Sungai Ledewero untuk mencuci pakaian. Tanpa diduga, seekor buaya besar muncul dari belakang dan langsung menerkamnya. Suaminya yang berada di lokasi berusaha menyelamatkan, namun tenaga manusia tak mampu melawan kekuatan predator sungai itu. Albina terseret deras ke tengah perairan berlumpur, dan sejak saat itu ia hilang tanpa jejak.

Warga yang mendengar kabar ini segera melakukan pencarian. Namun, luasnya sungai, derasnya arus, dan rimbunnya pepohonan bakau menjadi hambatan besar. Hingga malam tiba, harapan untuk menemukan Albina semakin redup.

Belum pulih dari keterkejutan, tragedi kedua terjadi hanya beberapa jam setelahnya. Blasius Lomi (37), anak Albina, nekat turun ke sungai untuk mencari ibunya. Dengan senter seadanya, ia menyelam ke dalam air tanpa perlindungan.

Tiba-tiba, terdengar jeritan memilukan: “Mama… Mama…!” Teman-temannya mengira Albina telah ditemukan. Namun, detik berikutnya, seekor buaya lain muncul dari permukaan dan langsung menerkam Blasius di depan mata mereka!

Warga hanya bisa menyaksikan tubuh Blasius terseret ke dalam kegelapan malam. Jeritan minta tolong bercampur tangis kehilangan, namun tak ada yang bisa dilakukan. Sungai yang menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi kuburan tak berampun.

Kamis pagi (6/2/2025), pencarian terus dilakukan. Sekitar pukul 11.00 WITA, jasad Blasius akhirnya ditemukan di muara Ketewel, sekitar 500 meter dari lokasi ia diterkam. Tubuhnya penuh luka robek, bukti keganasan predator yang menghabisinya.

Namun, hingga Kamis malam, jasad Albina masih belum ditemukan. Warga dan tim penyelamat masih berjibaku, berharap setidaknya bisa membawa pulang tubuhnya untuk dimakamkan dengan layak.

Dua nyawa melayang dalam sehari, namun ini bukan insiden pertama. Sungai Ledewero dan beberapa wilayah perairan di NTT sudah lama dikenal sebagai sarang buaya, namun di mana langkah pencegahan dari pihak berwenang? Hingga kapan masyarakat harus terus kehilangan anggota keluarganya hanya karena mencari air atau mencuci pakaian?

Tragedi ini adalah peringatan keras. Pemerintah harus segera mengambil tindakan nyata, baik melalui edukasi keselamatan, penertiban habitat buaya, atau pembangunan fasilitas cuci dan air bersih bagi warga. Jangan sampai Sungai Ledewero menjadi panggung kematian berikutnya.

Sementara itu, keluarga korban hanya bisa menunggu dalam duka. Mereka tak hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga dihantui trauma mendalam yang tak akan mudah terobati.

Hidup di dekat sungai tak seharusnya berarti hidup di bawah bayang-bayang maut. Sampai kapan warga harus berjuang sendiri?

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *