“Negeri Para Tiran, Rakyat Tanpa Suara dan Represi Berkedok Harmoni”

Di tengah malam yang sepi, di antara lembaran kertas dan dentingan tuts keyboard, seorang perempuan menumpahkan pikirannya. Kata demi kata mengalir seperti arus sungai yang tak terbendung, membawa segala kemarahan, tangis, harapan, dan kebebasan yang selama ini tersangkut di tenggorokannya. Menulis bukan sekadar hobi baginya—ini adalah cara bertahan, cara melawan, cara berteriak tanpa perlu mengeluarkan suara.

Di dunia nyata, ia hanya satu dari sekian banyak manusia yang terbelenggu aturan, norma, dan ekspektasi. Suaranya sering dibungkam, opininya diremehkan, dan keberadaannya nyaris transparan. Namun di dalam tulisan, ia adalah penguasa. Ia menciptakan dunia, menggulingkan sistem, menelanjangi kebohongan, dan mengukir keadilan dengan tinta yang lebih tajam dari pedang.

Ia menulis tentang mereka yang tak berani bersuara. Tentang para pekerja yang diperas tanpa balasan, perempuan yang direndahkan atas nama budaya, orang miskin yang dipaksa percaya bahwa kesengsaraan mereka adalah takdir. Ia menuliskan wajah-wajah pemimpin yang berjanji manis sebelum pemilu, lalu menutup mata setelah berkuasa. Ia menulis tentang kebenaran yang disembunyikan, tentang rakyat yang dihisap habis-habisan lalu dibungkam dengan propaganda.

Setiap kalimatnya seperti palu godam yang menghantam keangkuhan. Ia tahu, tulisannya mungkin tak akan disukai. Bisa jadi, ia akan dicap pembangkang, perusak ketenangan, atau penyebar keresahan. Tapi baginya, diam berarti mati, dan menulis adalah satu-satunya cara agar ia tetap hidup.

Dalam setiap huruf yang ia ukir, ada darah dan air mata. Ada perlawanan tanpa senjata. Ada kebenaran yang selama ini dikubur.

Dan malam itu, ia tersenyum. Karena meski tanpa suara, ia telah berteriak lebih nyaring daripada siapa pun.(by Arnold 07/02/2025)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *