Kupang,– Di tengah derasnya arus pembangunan kota, Pemerintah Kota Kupang menunjukkan bahwa kepedulian sosial masih menjadi denyut nadi utama pemerintahan yang berorientasi pada rakyat. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, bersama Wakil Wali Kota Serena Francis, turun langsung ke tengah masyarakat dalam kegiatan pemberian bantuan sosial kepada Jemaat GMIT Horeb Perumnas, Minggu (1/6/2025).
Bertempat di Gedung Kebaktian Jemaat Horeb—yang berdiri kokoh sebagai simbol iman dan ketahanan komunitas—penyerahan bantuan sosial sebesar Rp50 juta menjadi oase di tengah padang pasir kebutuhan yang kian kompleks. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap kehidupan rohani dan kesejahteraan jemaat yang selama ini telah menjadi pilar sosial di wilayah tersebut.
Dalam sambutannya, Wali Kota dr. Christian Widodo menegaskan bahwa kehadiran pemerintah bukan sekadar administratif, melainkan bentuk keterlibatan aktif dan empatik terhadap denyut kehidupan masyarakat.
“Kami hadir bukan hanya untuk memerintah, tetapi untuk melayani. Kegiatan sosial seperti ini adalah cermin dari komitmen kami agar tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan pembangunan,” ungkapnya.
Bantuan tersebut, meskipun belum dapat menjawab seluruh kebutuhan jemaat, diakui sebagai langkah awal yang strategis. Pemerintah terus berupaya menciptakan keseimbangan antara program infrastruktur dan sentuhan kemanusiaan. Dengan alokasi yang mungkin belum besar, pemerintah sedang menanam benih harapan yang kelak diharapkan tumbuh menjadi pohon kesejahteraan bagi semua.
Mantan Wali Kota Kupang, Jonas Salean, yang turut hadir, memberikan perspektif historis sekaligus menyentuh realitas sosial yang dihadapi Jemaat GMIT Horeb.
“Dari total 1.673 jemaat yang terdaftar, terdapat 96 kepala keluarga yang masuk kategori kurang mampu. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan wajah-wajah nyata yang membutuhkan perhatian serius,” ujarnya dengan nada yang tajam namun penuh empati.
Jonas Salean juga mengingatkan tentang perjalanan spiritual dan sosial Jemaat Horeb, termasuk peresmian gedung kebaktian yang dilakukan pada 23 Juli 2017, saat dirinya masih menjabat sebagai Wali Kota. Gedung tersebut kini menjadi saksi bisu atas semangat gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan ini tak sekadar seremoni, tapi mencerminkan sebuah narasi besar: bahwa negara—dalam hal ini pemerintah daerah—masih memiliki nurani. Di tengah hiruk-pikuk politik dan tuntutan pembangunan fisik, ruang-ruang kasih seperti ini adalah jeda penting yang menyegarkan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan semangat kolaboratif dan sinergi lintas kepemimpinan, Wali Kota saat ini dan mantan Wali Kota terdahulu memberi pesan kuat: Kupang bukan hanya dibangun oleh beton dan baja, tetapi juga oleh empati, solidaritas, dan doa-doa yang melangit dari jemaat-jemaat sederhana.

Tinggalkan Balasan