Kupang, — Sebuah babak baru terbuka dalam sejarah perbankan daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, secara resmi menandatangani persetujuan atas hasil penawaran dan negosiasi harga saham serta rasio price to book value (PBV) dalam kerja sama Kelompok Usaha Bank (KUB) antara Bank NTT dan Bank Jatim. Penandatanganan yang berlangsung pada Senin, 30 Juni 2025, menjadi penentu utama kelanjutan proses konsolidasi dua lembaga keuangan ini dalam memenuhi ketentuan Modal Inti Minimum (MIM) Rp3 triliun yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Langkah ini tidak hanya menandai keberhasilan teknis dan administratif. Ia merepresentasikan sebuah visi besar: menjadikan perbankan daerah sebagai pilar utama pembangunan ekonomi rakyat. Dengan resminya kesepakatan ini, Bank NTT tidak lagi hanya sekadar bertahan, tapi melangkah pasti dalam lanskap industri perbankan nasional yang semakin kompetitif.
“Ini bukan sekadar transaksi bisnis. Ini adalah kerja politik pembangunan,” tegas Gubernur Melki.
Proses yang berlangsung panjang dan penuh dinamika ini bukan terjadi begitu saja. Di balik layar, Gubernur Melki bukan hanya menyaksikan, melainkan mengambil peran langsung. Mantan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI itu memimpin koordinasi intensif antara manajemen Bank NTT dan para pemegang saham pengendali. Ia memastikan bahwa semua langkah yang diambil berpijak pada kepentingan daerah dan masa depan ekonomi masyarakat NTT.
Finalisasi KUB ini menjadi jawaban konkret terhadap tantangan yang dihadapi perbankan daerah selama ini: keterbatasan modal, tekanan persaingan, serta tuntutan akan inovasi dan kolaborasi. Kini, lewat kerja sama strategis dengan Bank Jatim, Bank NTT membuka jalan baru bagi inklusi keuangan yang lebih luas dan pembiayaan sektor produktif yang lebih tajam.
Membangun Jembatan Ekonomi, Bukan Sekadar Penyelamatan Modal
Lebih dari aspek teknis permodalan, Gubernur Melki menekankan bahwa KUB ini adalah jembatan ekonomi antar daerah. Kerja sama ini membuka ruang hilirisasi produk-produk unggulan NTT, mendorong terbukanya lapangan kerja baru, serta meningkatkan pendapatan daerah secara berkelanjutan.
“Setelah hari ini, arah Bank NTT akan lebih fokus pada pembiayaan sektor-sektor produktif seperti UMKM, pertanian, dan pariwisata, yang merupakan tulang punggung ekonomi rakyat kita,” ujar Gubernur Melki.
Lebih jauh, sinergi dengan Bank Jatim diharapkan dapat memperkuat program-program unggulan seperti One Village One Product (OVOP) dan gerakan Beli NTT, yang bertujuan menjaga pasar lokal tetap memberi tempat bagi produk NTT. Bank NTT kini menjadi pemain aktif dalam mengorkestrasi kekuatan lokal untuk menjawab tantangan global.
Arah Baru Bank NTT: Dari Bank Daerah Menuju Aktor Nasional
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal arah baru Bank NTT dalam peta perbankan nasional. Dari peran tradisional sebagai bank pembangunan daerah, Bank NTT kini bertransformasi menjadi mitra strategis yang siap berkolaborasi dalam konsolidasi pasar regional.
Landu Praing, salah satu penggerak dalam proses ini, menjelaskan bahwa penandatanganan ini merupakan bagian akhir dari rangkaian panjang yang kini segera dilanjutkan dengan permohonan izin penyertaan modal oleh Bank Jatim ke OJK. “Ini hari terakhir untuk mendapatkan rekomendasi harga saham dari Bapak Gubernur. Selanjutnya kami akan menandatangani CSSA sebagai dasar penyertaan modal Bank Jatim ke Bank NTT,” jelasnya.
Dengan ini, modal inti Bank NTT resmi menembus batas Rp3 triliun — sebuah capaian monumental yang membuka jalan menuju masa depan yang lebih kuat dan mandiri.
Menumbuhkan Kepercayaan Publik, Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Bagi Gubernur Melki, kekuatan modal hanyalah awal. Yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya kepercayaan publik terhadap Bank NTT sebagai lembaga keuangan yang hadir dan relevan dengan kebutuhan rakyat. Ia meyakini bahwa melalui kolaborasi, inovasi, dan keberanian dalam mengambil langkah strategis, daerah seperti NTT tidak hanya bisa bertahan, tapi juga bersinar dalam revolusi keuangan nasional.
Hari ini, NTT bukan sekadar mengejar ketertinggalan. Ia sedang memimpin narasi baru tentang bagaimana kerja politik, kolaborasi ekonomi, dan semangat daerah bisa melahirkan perubahan nyata bagi rakyatnya.(***).

Tinggalkan Balasan