TTS, — Sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (15/9), ketika Kerajaan Amanuban secara resmi dikembalikan kepada keluarga besar Nuban setelah 38 tahun penantian.
Upacara sakral ini menandai penobatan Drs. Jonathan Nubatonis sebagai Raja Amanuban dan peresmian Kompleks Sonaf Amanuban di Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat. Kompleks yang dibangun dengan anggaran Rp5 miliar uang pribadi Jonathan Nubatonis kini menjadi pusat budaya dan simbol persatuan masyarakat Amanuban.
Sejarah Panjang Dinasti Nuban dan Nope
Kerajaan Amanuban diyakini berdiri sejak abad ke-5 Masehi dengan 32 generasi Raja Nuban. Dinasti itu berakhir ketika Raja ke-32, Seo Nuban, digulingkan oleh keluarga Nope. Selama 11 generasi berikutnya, kekuasaan dipegang oleh dinasti Nope hingga masa Raja Kusa Nope.
Menjelang akhir hidupnya pada 15 September 1987, Raja Kusa Nope yang telah memeluk agama Kristen menyadari bahwa peralihan kekuasaan masa lalu meninggalkan luka sejarah. Ia kemudian mengutus empat anggota keluarga Nope—antara lain Karel (Kela) Nope dan Luis Nope—ke Tunbes untuk menyerahkan kembali hak kerajaan kepada keluarga Nuban, Nubatonis, Tenis, dan Asbanu.

Namun, penyerahan tersebut tidak segera diresmikan melalui upacara adat maupun syukuran keagamaan. Baru pada 15 September 2025, tepat 38 tahun kemudian, peristiwa tersebut diperingati secara resmi.
Dalam prosesi adat, Bil Nope selaku putra mahkota dinasti Nope menyerahkan destar raja kepada empat suku besar di Kerajaan Tunbes. Selanjutnya, keempat suku tersebut meneruskan penyerahan kepada Bupati TTS untuk menobatkan Raja Jonathan Nubatonis.
Proses ini mencerminkan rekonstruksi peristiwa 1987, sekaligus menegaskan bahwa situs kerajaan Amanuban di Tunbes merupakan warisan budaya yang dijaga negara.
Simbol Persatuan dan Syukur
Bupati TTS dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah daerah hadir untuk memastikan sejarah Amanuban tidak hanya diingat, tetapi juga diwariskan sebagai identitas budaya bangsa.
“Hari ini kita menyaksikan sejarah yang kembali ke akarnya. Kerajaan Amanuban bukan hanya milik keluarga besar Nuban, tetapi juga milik seluruh masyarakat NTT dan Indonesia,” ujarnya.
Penobatan Raja Jonathan Nubatonis dipandang sebagai simbol rekonsiliasi dua dinasti besar, penyembuhan luka sejarah, serta penguatan jati diri masyarakat Amanuban dalam bingkai kebangsaan.
Tonggak Baru Sejarah Nusantara
Upacara ini menjadi momentum penting tidak hanya bagi masyarakat TTS, tetapi juga bagi sejarah Nusantara. Kembalinya Kerajaan Amanuban kepada dinasti Nuban dianggap sebagai bukti bahwa kearifan lokal, iman, dan persaudaraan mampu melampaui perbedaan sejarah demi masa depan bersama.

Tinggalkan Balasan