Rotary Rastamores dan Pemkot Kupang Satukan Gerakan Selamatkan Pesisir: Dari Mangrove, Tukik, hingga Literasi Lingkungan

Kupang – Pesisir Pantai Mangrove Muara Abu, Oesapa Barat, Selasa (23/9), menjadi panggung kolaborasi antara Pemerintah Kota Kupang dan Rotary Rastamores. Ratusan bibit mangrove ditanam, puluhan tukik dilepas ke laut, dan lebih dari itu, sebuah pesan kolektif ditegaskan: pelestarian lingkungan hanya bisa berhasil jika pemerintah, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kupang, Ignasius R. Lega, hadir mewakili Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Rotary Rastamores atas dukungan nyata dalam menjaga ekosistem pesisir. “Kami berterima kasih kepada Rotary Rastamores. Semoga kegiatan ini bukan yang terakhir, melainkan awal dari kerja sama yang lebih luas. Kota Kupang masih menghadapi tantangan serius, mulai dari air bersih, pendidikan, hingga penanganan sampah. Kolaborasi seperti ini menjadi energi baru untuk membangun kota,” ujar Ignasius.

Menurutnya, semangat pembangunan Kota Kupang tidak bisa dilepaskan dari prinsip gotong royong modern. Ia mengutip pesan Wali Kota terpilih, bahwa pembangunan sejati menuntut kebersamaan. “Kalau mau jalan cepat, kita bisa jalan sendiri. Tapi kalau mau jalan jauh, kita harus jalan bersama. Rotary Rastamores adalah bagian dari kita,” tambahnya.

District Governor Rotary Rastamores, Dyah Anggreani, menegaskan bahwa program pelestarian lingkungan di Kupang sejalan dengan tujuh fokus pelayanan Rotary di dunia. Mulai dari kesehatan ibu dan anak, penyediaan air bersih, pencegahan penyakit, literasi pendidikan, hingga kepedulian terhadap lingkungan. “Kami adalah people of action. Orang-orang yang bergerak untuk perubahan. Hari ini kami menanam mangrove dan melepas tukik sebagai simbol bahwa kita menanam harapan, sekaligus menjaga masa depan generasi berikut,” ungkap Dyah.

Ia juga menyinggung masalah sampah yang kini menjadi isu global, termasuk di Kota Kupang. Rotary Rastamores, kata Dyah, tengah menyusun buku edukasi lingkungan untuk anak sekolah, agar kesadaran mengelola sampah terbentuk sejak dini. “Anak-anak perlu belajar bagaimana sampah bisa menyebabkan banjir, merusak laut, dan menghancurkan pesisir. Edukasi sejak dini adalah kunci,” jelasnya.

Selain soal lingkungan, Rotary Rastamores membuka ruang kolaborasi lain, dari penyediaan air bersih hingga peningkatan literasi. Dyah bahkan mendorong sekolah-sekolah di Kota Kupang membentuk Interact Club—wadah bagi pelajar SMP hingga SMA/SMK untuk belajar kepemimpinan, meningkatkan kemampuan bahasa asing, serta menumbuhkan kepedulian sosial.

Kegiatan di Muara Abu tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga strategis untuk pengembangan kawasan pesisir. Dyah menegaskan bahwa konservasi mangrove dan pelestarian tukik bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata berbasis ekologi. “Ini adalah peluang. Apa yang kita lakukan hari ini bisa menjadi dasar untuk kawasan konservasi yang hidup, yang tidak hanya melindungi alam tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir,” katanya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *