“Desa Oe’ekam: Proyek Puluhan  Juta Hanya Jadi Monumen Pipa Siluman”

Soe, -Jejak uang proyek air bersih Oe’ekam tak kalah buram dibanding pipa-pipa yang kini menganggur. Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2023 yang dikucurkan untuk perluasan jaringan perpipaan mencapai puluhan juta rupiah. Kontraktor ditunjuk, pekerjaan fisik digelar, dan pada November tahun itu proyek dinyatakan rampung. Laporan keuangan pemerintah daerah menyebut, serapan anggaran berjalan sesuai rencana.

Namun yang tak pernah dipublikasikan adalah: berapa sebenarnya biaya untuk material, berapa yang masuk ke ongkos pengerjaan, dan berapa pula yang dialokasikan untuk memastikan sambungan rumah siap dipakai. Warga yang tinggal di sekitar proyek justru menuturkan bahwa kualitas pipa yang dipasang tampak seadanya, beberapa titik bahkan tak terkubur rapih sehingga mudah rusak.

“Kalau hanya untuk pipa yang sekarang terpasang, anggarannya terasa janggal. Besar di kertas, tapi kecil hasilnya di lapangan,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya.

Ketiadaan air mengalir sejak hari pertama memunculkan pertanyaan lain: apakah kontraktor hanya mengejar fisik pemasangan tanpa memastikan sistem berfungsi? Mengapa dinas teknis berani menandatangani serah terima pekerjaan yang jelas-jelas tidak bisa dipakai? Dan mengapa PDAM seolah tidak merasa wajib memperbaiki jaringan rusak atau menuntaskan sambungan rumah?

Di titik ini, aroma markup sulit ditepis. Anggaran negara sudah habis, tapi warga masih membeli air dengan harga mahal. Proyek yang seharusnya menjadi solusi justru membuka peluang keuntungan bagi segelintir pihak, sementara masyarakat tetap kehausan.

Karena itu, berbagai pihak menilai proyek air bersih Oe’ekam layak diaudit menyeluruh. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) maupun aparat penegak hukum didesak turun tangan, menelisik apakah ada penyimpangan penggunaan dana DAU, termasuk kemungkinan markup atau kelalaian dalam pengawasan.

“Uang negara sudah keluar, tapi manfaatnya tidak ada. Ini harus diaudit, supaya jelas siapa yang bermain dan siapa yang bertanggung jawab,” tegas Kepala Desa Oe’ekam, Jeyoda E. Nabunome.

Di Oe’ekam, pipa-pipa proyek kini menjelma jadi monumen bisu: berdiri kaku, tak pernah menyalurkan kehidupan. Uang negara telah digelontorkan, laporan pembangunan sudah disusun rapi, tapi jeriken-jeriken warga tetap kosong. Selama audit tak digelar dan tanggung jawab tak ditegakkan, air bersih akan tetap menjadi janji yang kering—seperti pipa yang ditinggalkan tanpa aliran.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *