Kupang — Pada suatu malam yang sepi di awal Agustus 2022, langit Liliba memantulkan cahaya merah dari kobaran api kecil di dekat Tempat Pemakaman Umum Kasih. Warga sekitar mengira itu sekadar pembakaran sampah. Beberapa jam kemudian, pemandangan itu berubah menjadi salah satu temuan paling mengerikan yang pernah dilaporkan kepolisian Kota Kupang: sesosok tubuh hangus, tak lagi dapat dikenali.
Belakangan, korban diketahui bernama Sebastianus Bokol (22), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, yang tengah berada di Kupang saat liburan. Bagi keluarga dan masyarakat Sumba Barat Daya, Tian—begitu ia disapa—adalah anak harapan, mahasiswa rajin, dan sosok yang tidak pernah membuat masalah. Tak pernah terbayangkan bahwa hidupnya akan berakhir di tengah gelap malam dengan cara paling kejam.
Kasus ini langsung menyebar, memantik kemarahan dan kecurigaan. Namun dari titik itu pula, perjalanan panjang menuju kebenaran hampir seperti jalan buntu: tiga tahun tanpa pelaku, tanpa motif, tanpa jawaban.
Demonstrasi, Tekanan Publik, dan Kasus yang Nyaris Ditinggalkan
Pada 2022 hingga 2023, Kupang beberapa kali menjadi saksi amarah publik. Mahasiswa asal Sumba dan organisasi masyarakat menggelar tiga gelombang demonstrasi besar. Mereka menuduh penyidik lambat, bahkan mengabaikan kasus karena korban bukan “anak orang besar.”
Poster-poster bertuliskan Justice for Tian memenuhi jalanan. Di kampus dan komunitas diaspora Sumba di Jawa, isu ini menjadi simbol ketidakadilan hukum di NTT. Namun meski protes menggema, penyidikan tak kunjung memberikan titik terang.
Beberapa saksi dimintai keterangan, rekaman CCTV diperiksa, namun alur kejahatan tetap gelap. Polisi hanya mampu mengatakan: “Masih penyelidikan.”
Mencari Jejak Terakhir: Kronologi Misteri Sebelum Pembunuhan
Sumber internal yang terlibat dalam penyidikan mengungkapkan bahwa Tian terakhir terlihat bersama beberapa orang pada malam sebelum ia ditemukan meninggal. Namun jejak komunikasi dan indikasi hubungan personal para terduga pelaku dengan korban sempat menjadi simpang siur.
Informasi yang di himpun media ini dari berbagai sumber menyebut ada faktor “hubungan sosial dan dendam pribadi” yang menjadi celah awal terungkapnya kasus. Namun diperlukan waktu lama untuk memverifikasi semua pengakuan dan bukti lapangan yang tersebar.
“Kami harus bekerja dengan bahan yang sangat minim. Butuh waktu lama untuk menyatukan potongan puzzle,” ujarnya.
Terobosan di 2025: Tim Gabungan Dibentuk Diam-Diam
Pertengahan 2025, Kapolda NTT membentuk tim investigasi gabungan dari Ditreskrimum, intelijen, dan satuan teknis lainnya. Tim ini bekerja secara tertutup untuk menghindari kebocoran informasi. Mereka kembali memeriksa bukti-bukti lama yang dianggap tidak relevan.
Hasilnya mengejutkan: beberapa keterangan saksi yang dulu dianggap kecil ternyata membuka jalur baru. Dari rekonstruksi ulang, penyidik mulai menemukan pola yang mengarah pada kelompok tertentu.
“Setelah satu nama muncul, semuanya seperti domino. Saling terkait,” kata seorang penyidik.
Penangkapan Berantai, Tujuh Tersangka Masuk Sel
Awal Desember 2025 menjadi momen yang memecah kebuntuan. Dalam operasi yang berlangsung di beberapa titik berbeda, polisi berhasil menangkap tujuh orang yang diduga terlibat langsung dalam pembunuhan dan pembakaran Tian:
MAD alias Migel (21)
FMD (22)
JK (28)
HVGS (22)
AKAP (22)
APFM (22)
WIT (23)
Mereka ditahan di Dit Tahti Polda NTT sejak 2 Desember 2025, menjalani penahanan awal selama 20 hari. Polisi belum membeberkan motif secara resmi, namun dugaan keterlibatan berkelompok dan tindakan penghilangan jejak melalui pembakaran menjadi fokus pemeriksaan.
Tim penyidik juga tengah menyusun rekonstruksi lengkap untuk memastikan peran masing-masing tersangka, apakah sebagai eksekutor, pembantu, atau pelaku yang merencanakan.
Reaksi Keluarga dan Masyarakat Sumba: “Akhirnya, Ada Harapan”
Kabar penangkapan ini menyebar cepat ke Sumba Barat Daya. Keluarga korban menyebut perkembangan ini “kelegaan setelah tiga tahun dikecewakan.”
Tokoh masyarakat Sumba di Kupang yang tidak mau namnya di sebutkan menyatakan bahwa hasil ini bukan sekadar kabar baik, tetapi bukti bahwa tekanan publik tidak sia-sia.
“Kami sudah menunggu terlalu lama. Sekarang kami ingin proses hukum berjalan sampai tuntas,” ujar salah satu koordinator aksi.
Pertanyaan Besar yang Masih Menggantung
Meski penangkapan tujuh tersangka menjawab sebagian misteri, masih banyak pertanyaan besar yang menunggu kejelasan:
Apa motif utama pembunuhan?
Mengapa korban harus dibakar?
Apakah ada pelaku lain yang masih berkeliaran?
Apakah kasus ini terkait konflik, pergaulan, atau ada motif ekonomi?
Mengapa penyidikan begitu lambat selama tiga tahun?
Jalan Panjang Menuju Keadilan
Penangkapan tujuh terduga pelaku bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal dari proses pengungkapan kebenaran. Dalam tiga tahun, kasus ini telah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan di NTT. Kini, semua mata tertuju pada Polda NTT: apakah mereka mampu membuktikan bahwa hukum akhirnya berpihak pada korban?
Jika benar semua tersangka terbukti bersalah, maka kasus pembunuhan Tian akan menjadi preseden penting: bahwa sekalipun lambat, kebenaran tidak bisa terus disembunyikan.

Tinggalkan Balasan