Kupang,-PT.PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur mengajak insan pers melihat langsung jantung kelistrikan Pulau Timor melalui kegiatan Media Gathering di PLTU Timor-1, Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Senin (15/12/2025).
Kegiatan ini menjadi upaya PLN membangun keterbukaan informasi sekaligus memperkuat kemitraan strategis dengan media dalam menyampaikan kondisi riil sistem kelistrikan di NTT kepada publik.
Para wartawan diajak berkeliling area pembangkit, menyaksikan langsung proses operasional PLTU, sistem pengendalian emisi, hingga simulasi pengoperasian pembangkit. Dalam simulasi tersebut, ditunjukkan bahwa tidak muncul asap ketika sistem listrik berada dalam kondisi stabil.
Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial (TJSL) PLN UIW NTT, Otiswan Maromon, menjelaskan bahwa beban listrik Sistem Timor pada siang hari bisa mencapai sekitar 100 megawatt (MW). Karena itu, pengoperasian pembangkit disesuaikan secara dinamis dengan kebutuhan sistem.
“Teman-teman media tadi bisa melihat sendiri, PLTMG Panaf yang berada di dekat PLTU Timor-1 tidak mengeluarkan asap. Itu karena pasokan listrik sudah dipenuhi dari PLTU Timor dengan daya mampu 100 MW, sehingga pembangkit lain tidak perlu bekerja penuh,” jelas Otiswan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada manajemen dan tim operasional PLTU Timor yang tetap siaga, meski harus bertugas dari lokasi yang cukup jauh, demi memastikan listrik di wilayah timur NTT tetap andal.
Alasan Pemadaman dan Imbauan Keselamatan
Pada kesempatan tersebut, Otiswan turut menjelaskan penyebab pemadaman listrik yang sempat terjadi di sejumlah wilayah, terutama menjelang akhir tahun. Menurutnya, pemadaman umumnya disebabkan oleh pemeliharaan jaringan terencana yang dilakukan PLN untuk memastikan sistem siap menghadapi lonjakan kebutuhan listrik saat Natal dan Tahun Baru.
“Pemeliharaan ini justru untuk mencegah gangguan yang lebih besar saat hari raya. Selain itu, faktor alam seperti hujan lebat, angin kencang, petir, hingga pohon tumbang juga sering menjadi penyebab gangguan,” ujarnya.
Otiswan mengimbau masyarakat agar tidak memangkas pohon di sekitar jaringan listrik secara mandiri.
“Jika ada pohon dekat jaringan, segera laporkan ke PLN. Jangan dipotong sendiri karena sangat berbahaya. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” tegasnya.
Transmisi Ganda, Listrik Lebih Tangguh
PLN juga tengah memperkuat sistem transmisi melalui pembangunan jalur transmisi ganda yang membentang dari Panaf menuju Naibonat, Amfoang, Timor Tengah Utara, Malaka hingga Atambua.
Dengan sistem ini, jika satu jalur mengalami gangguan, pasokan listrik dapat dialihkan ke jalur lainnya sehingga risiko pemadaman dapat ditekan.
“Prinsip kami melayani semua pelanggan secara adil. Tidak ada wilayah yang dianaktirikan. Tantangan di daerah ujung memang panjangnya jaringan, tetapi kami terus meningkatkan keandalannya,” kata Otiswan.
PLTU Timor, Penopang Utama Sistem Timor
Sementara itu, Plant Manager MPRS Timor-1, Gotot Setijono, menegaskan bahwa PLTU Timor berkapasitas 100 MW merupakan penopang utama sistem kelistrikan Pulau Timor.
Meski masih berada dalam masa transisi dari tahap pengetesan menuju operasi penuh, pembangkit tetap harus dioperasikan karena kebutuhan listrik yang terus meningkat.
“Kapasitasnya besar. Kalau pembangkit ini tidak beroperasi lalu terjadi gangguan, dampaknya akan sangat luas. Karena itu, PLTU Timor harus tetap menyala demi stabilitas sistem,” ujar Gotot.
Ia menjelaskan, PLTU Timor merupakan aset milik PLN, sementara MPES bertindak sebagai mitra yang menangani operasi dan pemeliharaan. MPES sendiri telah berpengalaman mengelola pembangkit di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Batam, Bali, hingga kawasan timur, termasuk proyek energi bersih.
Gotot juga memastikan kesiapan operasional PLTU Timor menjelang Natal dan Tahun Baru, termasuk stok batu bara untuk sekitar 30 hari, sebagai antisipasi cuaca ekstrem dan kendala distribusi.
PLN Siaga Penuh Natal dan Tahun Baru
General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, mengatakan Media Gathering ini merupakan agenda rutin PLN yang digelar dua kali setahun sebagai sarana membangun sinergi dengan media.
Ia menyebutkan, daya mampu pasok kelistrikan di NTT saat ini mencapai 461,6 MW, sementara perkiraan beban puncak Natal sebesar 282,32 MW, sehingga secara umum sistem berada dalam kondisi aman.
Untuk periode siaga Natal dan Tahun Baru, PLN NTT menyiagakan 544 personel internal, 904 mitra kerja, 27 posko siaga, pengamanan 76 titik VVIP, serta 76 lokasi SPKLU. Seluruh pembangkit besar beroperasi penuh dengan pengawasan 24 jam hingga 8 Januari 2026.
“Gangguan akibat cuaca ekstrem tetap berpotensi terjadi, tetapi kami sudah menyiapkan sistem pengamanan dan respons cepat agar pemulihan bisa dilakukan secepat mungkin,” tegas Eko.
PLN berharap dukungan media dapat terus mengalir agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat, berimbang, dan membangun kepercayaan publik terhadap upaya menjaga keandalan listrik di Nusa Tenggara Timur.

Tinggalkan Balasan