Kupang – Progres pekerjaan penanganan longsoran di ruas strategis Henes–Motamasin, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga hari ini, pelaksanaan konstruksi telah mencapai 68 persen, dengan fokus pekerjaan pada timbunan pilihan dan pemasangan geotekstil (geotextile) sebagai bagian dari penguatan struktur badan jalan.
Direktur CV Claudio, Johanes Nahak Klau, mengatakan paket penanganan longsoran difokuskan pada dua titik kritis di ruas Henes–Motamasin menuju Laktutus. Lokasi tersebut selama ini menjadi kawasan rawan longsor yang berpotensi mengganggu kelancaran arus transportasi sekaligus membahayakan keselamatan pengguna jalan.
“Progress pekerjaan saat ini telah mencapai 68 persen. Hari ini kami melaksanakan pekerjaan timbunan pilihan dan pemasangan geotekstil sebagai bagian dari tahapan penguatan konstruksi,” kata Johanes kepada wartawan.
Ia menjelaskan, untuk memastikan lereng memiliki daya dukung yang kuat dalam jangka panjang, proyek ini akan menggunakan sistem konstruksi bore pile. Metode tersebut dipilih karena mampu meningkatkan stabilitas tanah sekaligus meminimalkan risiko terjadinya longsor kembali.
“Penanganan akan menggunakan sistem konstruksi bore pile untuk menjamin stabilitas lereng dalam jangka panjang dan meningkatkan keamanan pengguna jalan,” ujarnya.
Menurut Johanes, ruas Henes–Motamasin merupakan salah satu jalur strategis yang menghubungkan kawasan perbatasan sehingga keberadaan infrastruktur yang aman dan andal menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Paket pekerjaan ini memiliki masa pelaksanaan selama 270 hari kalender, mencakup seluruh tahapan mulai dari pekerjaan tanah, penguatan lereng, hingga penyelesaian konstruksi. Seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dengan mengutamakan kualitas agar hasil pembangunan dapat memberikan manfaat jangka panjang.
Apabila rampung sesuai target, penanganan longsoran di ruas Henes–Motamasin diharapkan mampu meningkatkan konektivitas wilayah perbatasan, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melintasi jalur tersebut setiap hari.
Dengan progres yang terus meningkat, proyek ini menjadi salah satu upaya penting dalam memperkuat ketahanan infrastruktur jalan di Nusa Tenggara Timur, khususnya pada kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana geologi cukup tinggi.

Tinggalkan Balasan