Kasus HIV Kota Kupang Capai 3.062, Pemkot Dorong Kolaborasi dan Penguatan Pembiayaan Berkelanjutan

KUPANG — Pemerintah Kota Kupang mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan HIV/AIDS, Tuberkulosis (TB), dan Malaria (ATM) menyusul masih tingginya kasus HIV/AIDS di Kota Kupang.

Secara kumulatif, kasus HIV di Kota Kupang tercatat mencapai 3.062 kasus. Sementara itu, pada 2025 tercatat 225 kasus AIDS, sedangkan sejak Januari hingga Juli 2026 terdapat 102 kasus AIDS.

Data tersebut disampaikan Ketua Panitia Pelaksana, Johanes Orlando, dalam workshop bertajuk Membangun Kesadaran dan Memobilisasi Sumber Daya Domestik untuk Keberlanjutan Program AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) yang berlangsung di Hotel Harper Kupang, Kamis (3/9/2026).

Menurut Johanes, angka tersebut menunjukkan bahwa HIV/AIDS masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius dan penanganan berkelanjutan di Kota Kupang.

Yayasan Flobamora Jaya Peduli, kata dia, telah melakukan pendampingan terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS sejak 2024. Hingga Juni 2026, sebanyak 1.160 orang yang hidup dengan HIV telah mendapatkan pendampingan dari yayasan tersebut.

“Ini tentu bukan sekadar angka, tetapi gambaran bahwa HIV masih menjadi persoalan yang terjadi di wilayah Kota Kupang,” ujar Johanes.

Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Kupang, Hengky C. Malelak, mengatakan tingginya angka kasus menunjukkan bahwa penanggulangan HIV/AIDS tidak boleh berhenti pada kegiatan pencegahan semata.

Menurutnya, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari edukasi dan pencegahan, skrining, pengobatan, hingga pendampingan bagi orang yang hidup dengan HIV.

Hengky juga menyoroti adanya perbedaan data kasus HIV/AIDS yang disampaikan dalam workshop dengan data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Kupang.

Ia menyebutkan, data KPA Kota Kupang mencatat jumlah kasus HIV/AIDS secara kumulatif berada pada angka lebih dari 2.000 kasus.

“Data yang disampaikan panitia berbeda dengan data dari KPA AIDS Kota Kupang yang terakumulasi lebih dari 2.000 kasus. Ada selisih data. Karena itu, penting diadakan workshop ini,” kata Hengky.

Perbedaan tersebut, lanjutnya, perlu menjadi perhatian bersama agar terdapat basis data yang akurat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun kebijakan serta menentukan intervensi penanggulangan HIV/AIDS di Kota Kupang.

Pencegahan Diperkuat, UKS Jadi Salah Satu Strategi

Hengky menjelaskan, Pemerintah Kota Kupang terus menjalankan berbagai upaya untuk mencegah dan menangani HIV/AIDS.

Langkah tersebut mencakup edukasi kepada masyarakat, skrining aktif, pengobatan, hingga pemberian dukungan kepada kelompok yang membutuhkan.

Pemkot Kupang juga akan memperkuat kerja sama dengan KPA melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) bersama perangkat daerah terkait.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memperluas edukasi kesehatan sejak usia sekolah sekaligus membangun pemahaman yang benar mengenai HIV/AIDS.

Pemerintah juga menilai upaya pencegahan harus berjalan beriringan dengan kampanye pengurangan stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.

Hengky menegaskan, penanggulangan HIV/AIDS tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.

Dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, lembaga sosial, serta masyarakat memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan program.

Menurutnya, keberlanjutan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting agar layanan bagi masyarakat tidak terhenti ketika terjadi perubahan sumber pendanaan.

“Semua pihak harus membangun kesadaran dan menghilangkan stigma, dengan satu tujuan, jangan sampai ada layanan yang berhenti hanya karena sumber pendanaannya berubah,” tegasnya.

Karena itu, workshop tersebut diarahkan bukan sekadar menjadi forum diskusi, tetapi menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat sistem penanggulangan HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya.

Penanganan TB Juga Diperkuat

Selain HIV/AIDS, Pemerintah Kota Kupang juga memberikan perhatian terhadap penanggulangan Tuberkulosis atau TB.

Hengky mengatakan, tahun 2026 pelacakan atau tracing kasus TB direncanakan berlangsung di 71 titik.

Hingga saat ini, pelaksanaan tracing telah dilakukan di 21 titik.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menemukan kasus secara lebih cepat sehingga pasien dapat segera memperoleh penanganan dan pengobatan yang tepat.

Menuju Eliminasi ATM 2030

Penguatan penanggulangan AIDS, TB, dan malaria menjadi bagian penting dalam mendukung target eliminasi ATM pada 2030.

Pemerintah Kota Kupang menilai target tersebut membutuhkan sistem pembiayaan yang berkelanjutan serta kerja sama lintas sektor.

Tidak hanya pemerintah, seluruh elemen masyarakat diharapkan mengambil bagian dalam memperkuat pencegahan, menemukan kasus lebih dini, memastikan pengobatan berjalan, dan memberikan pendampingan kepada kelompok yang membutuhkan.

“Angka AIDS di Kota Kupang cukup tinggi. Karena itu, pemerintah membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan. Ini merupakan tugas kita bersama untuk mengatasi persoalan ini,” tegas Hengky.

Ia berharap workshop tersebut menghasilkan pemetaan sumber pembiayaan, pembagian peran lintas sektor, serta rencana tindak lanjut yang jelas dan terukur.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan program penanggulangan HIV/AIDS dan TB sekaligus mendukung pencapaian target eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria pada 2030.

Pemerintah Kota Kupang menegaskan, penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian, keberlanjutan layanan, ketepatan data, kepastian pembiayaan, dan penghapusan stigma.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *