Lima Hari Menyusuri Flores, Christian Widodo Antar Bantuan hingga Terjebak Erupsi Lewotobi

KUPANG, — Misi kemanusiaan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, di Pulau Flores tidak berakhir begitu saja setelah bantuan diserahkan kepada masyarakat terdampak gempa. Perjalanan lima hari itu justru ditutup dengan situasi tak terduga: penerbangan dari Maumere dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi.

Christian memilih jalan yang tidak biasa. Bantuan Pemerintah Kota Kupang senilai Rp635 juta tidak sekadar dikirim melalui perantara. Ia turun langsung menyusuri wilayah Flores dan menyerahkannya kepada masyarakat terdampak di enam kabupaten.

Perjalanan tersebut dimulai dari Manggarai Barat pada Selasa, 25 Agustus 2026, kemudian bergerak ke Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende dan berakhir di Sikka.

Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, rombongan harus menempuh perjalanan panjang di tengah kondisi pascabencana. Gempa susulan yang masih mengguncang sejumlah wilayah Flores bahkan dirasakan langsung selama perjalanan.

Namun, tantangan terbesar justru muncul ketika misi kemanusiaan hampir selesai.

Saat hendak meninggalkan Maumere, Sikka, penerbangan yang akan membawa Christian kembali ke Kupang dibatalkan menyusul erupsi Gunung Lewotobi.

Tidak ingin menunggu tanpa kepastian, ia mengubah rute perjalanan.

Christian bersama rombongan kemudian menempuh perjalanan darat menuju Larantuka, Flores Timur, untuk mencari alternatif penerbangan ke Kupang.

Setelah perjalanan panjang tersebut, Christian dan rombongan akhirnya berhasil kembali ke Kota Kupang melalui penerbangan dari Larantuka pada Sabtu (29/8).

Bukan Sekadar Mengirim Bantuan

Keputusan Christian datang langsung ke Flores mendapat perhatian dari sejumlah kepala daerah dan tokoh masyarakat setempat.

Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, bahkan menyebut Christian sebagai kepala daerah pertama dari wilayah NTT yang tidak terdampak bencana namun memilih turun langsung menemui korban gempa.

Pernyataan itu disampaikan Agas saat menerima Christian di Posko Penanggulangan Bencana Kabupaten Manggarai Timur di Borong, Rabu (26/8).

Menurut Agas, kehadiran Wali Kota Kupang memberikan penguatan psikologis bagi masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.

“Kami merasa terhibur, karena masih ada saudara-saudara yang punya kepedulian terhadap duka kemanusiaan yang menimpa kami. Saya tidak bisa omong banyak lagi, saya terharu sekali.”

Manggarai Timur menjadi kabupaten ketiga yang dikunjungi Christian setelah Manggarai Barat dan Manggarai.

DPRD NTT Beri Penilaian Khusus

Apresiasi juga datang dari Anggota DPRD Provinsi NTT daerah pemilihan Manggarai Raya, Yohanes Rumat.

Ia menilai kedatangan Christian menunjukkan kesederhanaan dan ketulusan dalam membangun solidaritas kemanusiaan.

“Sebagai tuan rumah, saya menyampaikan terima kasih yang luar biasa kepada Bapak Wali Kota Kupang. Karena kesederhanaan, ketulusan dan nilai kemanusiaannya, beliau bisa turun ke wilayah terdampak bencana,” ujar Yohanes.

Bahkan, Yohanes memberikan penilaian khusus terhadap langkah yang dilakukan Christian.

“Menurut saya, dari 22 kepala daerah kabupaten/kota, Wali Kota Kupanglah yang terbaik,” katanya.

Rp635 Juta Dibawa Menyusuri Enam Kabupaten

Dalam perjalanan tersebut, Pemerintah Kota Kupang membawa bantuan dengan total nilai Rp635 juta.

Dana itu bersumber dari Rp500 juta Belanja Tidak Terduga (BTT) Pemerintah Kota Kupang serta Rp135 juta hasil donasi ASN Pemkot Kupang dan penggalangan dana melalui laga ekshibisi tinju yang dilakukan Christian dalam rangkaian Pameran Pembangunan NTT.

Selain bantuan dana, masyarakat terdampak juga menerima paket sembako untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar pascabencana.

Namun Christian menegaskan, ukuran solidaritas tidak semata-mata terletak pada besarnya bantuan.

Menurutnya, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah memiliki nilai yang jauh lebih besar.

“Bantuan ini adalah simbol solidaritas kami. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa saudara-saudara kita di Flores tidak sendirian. Satu pulau terluka, yang lain siap membantu. Kemanusiaan tidak memiliki batas wilayah,” tegasnya.

Christian Sengaja Datang Sendiri

Christian mengungkapkan ada alasan khusus mengapa dirinya memilih mengantar langsung bantuan tersebut.

Ia ingin melihat sendiri kondisi masyarakat sekaligus mengajak pemerintah daerah dan berbagai elemen masyarakat lainnya melakukan hal serupa.

“Kenapa saya harus datang sendiri? Karena saya ingin mengajak teman-teman dari daerah lain untuk ikut berpartisipasi memberikan bantuan kepada warga terdampak di Flores,” katanya.

Menurutnya, Kota Kupang memang tidak mengalami dampak langsung seperti daerah-daerah di Flores.

Tetapi jarak geografis bukan alasan untuk mengabaikan penderitaan sesama masyarakat NTT.

“Kita mungkin tidak ikut diguncang gempa, tetapi kita ikut merasakan penderitaan mereka,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi benang merah perjalanan Christian selama lima hari menyusuri Flores.

Bupati Nagekeo: Bukan Hanya Bantuan, tetapi Kekuatan Moril

Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, menilai kedatangan Wali Kota Kupang membawa makna lebih besar daripada sekadar bantuan material.

Menurutnya, kehadiran tersebut membangkitkan semangat masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.

“Kehadiran ini memberikan semangat dan kebangkitan moril bagi kami yang terdampak, sehingga masyarakat tahu bahwa ketika mereka tertimpa bencana masih ada orang yang peduli,” ungkapnya.

Apresiasi serupa disampaikan Wakil Bupati Ende, Dr. drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Christian dan masyarakat Kota Kupang atas kepedulian serta bantuan yang diberikan kepada masyarakat Ende.

Sementara itu, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, S.H., didampingi Wakil Bupati Ir. Simon Subandi Supriadi, juga memberikan apresiasi terhadap kunjungan tersebut.

Juventus menilai perjalanan Christian memiliki pesan kuat mengenai solidaritas antardaerah.

“Kemanusiaan itu menembus batas apa pun. Kehadiran Pak Wali menjadi kekuatan bagi kami,” ujarnya.

Misi Kemanusiaan Ditutup dengan Perjalanan Panjang

Lima hari berada di Flores membuat perjalanan Christian bukan sekadar agenda penyerahan bantuan.

Ia menyaksikan langsung kondisi masyarakat pascagempa, merasakan guncangan gempa susulan, berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya, hingga akhirnya harus mengubah jalur kepulangan karena erupsi Gunung Lewotobi.

Dalam misi tersebut, Christian didampingi Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang Ernes S. Ludji, S.STP., M.Si., serta Plt. Kepala Bagian Umum Setda Kota Kupang Hubertus Mani, S.H.

Dari Manggarai Barat hingga Sikka, pesan yang dibawa tetap sama: Flores tidak sendirian menghadapi bencana.

Perjalanan itu akhirnya ditutup di Larantuka setelah jalur udara dari Maumere tidak dapat digunakan.

Christian dan rombongan kemudian berhasil kembali ke Kota Kupang pada Sabtu (29/8).

Misi tersebut meninggalkan satu pesan kuat: ketika bencana melanda satu wilayah, solidaritas tidak seharusnya berhenti pada batas kabupaten, kota, maupun pulau.

Kemanusiaan justru diuji ketika seseorang memilih datang, melihat, mendengar dan hadir langsung di tengah mereka yang sedang kehilangan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *