Pemkot Kupang Perkuat Konvergensi Cegah Stunting, Fokus pada Pencegahan Sejak Dini

Pemerintah Kota Kupang terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting melalui pendekatan pencegahan yang komprehensif dan terintegrasi. Upaya ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Penguatan Pelaksanaan Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting yang berlangsung di Hotel Kristal, Senin (1/12).

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penanganan stunting harus berorientasi pada pencegahan, bukan hanya pengobatan. Ia menekankan pentingnya keluarga  sejak masa kehamilan.

“Pencegahan jauh lebih efektif daripada pengobatan. Beban biaya pengobatan lebih besar dan belum tentu berhasil. Karena itu, nutrisi ibu hamil harus dipastikan terpenuhi, dan edukasi kepada masyarakat perlu diperkuat sejak anak masih kecil,” ujar Wali Kota.

Wali Kota juga menyoroti faktor risiko yang memengaruhi tingginya angka stunting, termasuk kehamilan tidak direncanakan dan tantangan ekonomi keluarga. Menurutnya, perencanaan keluarga merupakan bagian penting dalam mencegah lahirnya anak dengan risiko stunting.

“Kehamilan di luar nikah membawa dampak kesehatan dan sosial yang serius. Edukasi perlu dimulai sejak siswa di tingkat SMA hingga perguruan tinggi. Perencanaan keluarga adalah tanggung jawab bersama,” imbuhnya.

Saat ini, angka stunting di Kota Kupang tercatat berada pada level 16,3 persen. Pemerintah menargetkan penurunan signifikan melalui pendekatan holistik di semua lini layanan.


P2KB: Stunting adalah Masalah Multisektor, Perlu Kerja Sama Terstruktur

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kota Kupang, drg. Fransisca J. H. Ikasasi, menegaskan bahwa stunting bukan semata persoalan gizi, tetapi berkaitan erat dengan perilaku, lingkungan, dan akses layanan dasar masyarakat.

“Stunting terjadi bukan hanya karena kekurangan makanan. Ini juga tentang pola asuh, sanitasi, akses air bersih, kesehatan reproduksi, dan pengetahuan keluarga. Semua sektor harus bergerak bersama,” jelas Ikasasi.

Ia menyampaikan bahwa pendekatan konvergensi yang menggabungkan peran pemerintah, tenaga kesehatan, pendidikan, tokoh masyarakat, hingga kelompok pemuda sangat penting untuk memastikan intervensi berjalan efektif.

“Mulai dari kader posyandu, guru, tokoh agama, hingga pihak kampus, semua harus memiliki pemahaman dan peran yang sama. Upaya ini tidak akan berhasil jika berjalan sendiri-sendiri,” tambahnya.


Penguatan Edukasi Remaja dan Pendampingan Calon Pengantin

Dalam rangka memutus mata rantai stunting sejak hulu, P2KB Kota Kupang memperkuat edukasi kesehatan reproduksi di sekolah dan perguruan tinggi. Sasaran utamanya adalah remaja dan calon pengantin agar memahami risiko kehamilan dini dan pentingnya pemeriksaan pra-nikah.

“Perencanaan keluarga dimulai sebelum seorang pasangan menikah. Calon pengantin perlu memahami risiko anemia, usia ideal kehamilan, serta pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan,” kata Ikasasi.

P2KB juga meningkatkan kualitas pendampingan melalui kader pembangunan keluarga, memberikan tablet tambah darah, serta memperluas layanan pendampingan ibu hamil di seluruh kelurahan.


Menuju Kota Kupang Sehat, Maju, dan Bebas Stunting

Wali Kota menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting hanya dapat dicapai dengan kerja sama lintas sektor yang kuat dan konsisten.

“Kolaborasi adalah modal utama kita. Dalam persatuan, kita menemukan kemenangan. Kita terus bergerak menuju Kota Kupang yang lebih sehat dan lebih maju,” tutupnya.

Gelaran rapat koordinasi ini menjadi momentum strategis bagi Pemerintah Kota Kupang dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat rencana kerja tahun 2026 serta memastikan setiap program tepat sasaran bagi keluarga dan anak-anak di Kota Kupang.( Advertorial).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *