Kupang,– “Jabatan bisa datang dan pergi, tapi amanat rakyat abadi.” Pesan itu bergema dari bibir Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat melantik enam kepala dinas dan empat pejabat administrator.
Di hadapan para pejabat baru, ia menegaskan bahwa kursi kekuasaan hanyalah titipan, sementara tanggung jawab kepada masyarakat adalah warisan yang akan terus melekat.
Upacara pelantikan di Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Sabtu (30/8/2025), berlangsung penuh khidmat. Sepuluh pejabat yang berdiri tegak di hadapan Wali Kota menyadari betul, hari itu bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik perjalanan karier mereka sebagai abdi negara.
Dengan nada suara tegas namun sarat empati, Christian Widodo mengingatkan, jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan. Ia mengibaratkan kursi yang mereka duduki sebagai titipan yang bisa hilang kapan saja. “Kita tahu apa yang kita punya, tapi kita juga tahu kapan itu bisa diambil kembali,” ujarnya, menekankan bahwa kekuasaan selalu berjalan beriring dengan tanggung jawab besar.
Dalam sambutanya, Christian menekankan pentingnya pelayanan yang berakar dari hati. Kupang, kata Christian Widodo, bukan sekadar ibu kota provinsi, melainkan “Kota Kasih” yang harus dirawat dengan empati. Ia meminta pejabat baru untuk membuka telinga terhadap keluhan rakyat, karena suara masyarakat adalah arah kompas setiap kebijakan.
“Hari ini saya bisa tertawa, tapi besok saya bisa keluarkan SP1. Jangan salah menafsirkan senyum saya,” ucapnya, disambut tawa kecil para hadirin, namun sarat dengan pesan ketegasan.
Lebih jauh, Christian mengajak birokrasi untuk merasakan denyut luka bangsa, yang diibaratkannya sebagai “Ibu Pertiwi yang tengah terluka.” ASN, menurutnya, tidak hanya dituntut bekerja secara administratif, tetapi juga dengan kepekaan hati untuk menjadikan Kupang rumah yang ramah dan membanggakan.
Pelantikan itu ditutup dengan doa singkat, meninggalkan kesan mendalam. Para pejabat yang baru saja menerima mandat sadar, mereka kini memikul tanggung jawab bukan semata kepada Wali Kota, tetapi kepada Tuhan dan masyarakat yang menanti perubahan.
Saat tirai acara ditutup, aula Balai Kota Kupang menyisakan suasana hening. Sepuluh pejabat yang baru saja dilantik meninggalkan ruangan dengan wajah beragam: ada yang penuh optimisme, ada pula yang terlihat menahan beban tanggung jawab baru di pundak mereka. Senyum tipis, jabat tangan hangat, dan langkah mantap mengiringi keluar mereka dari panggung pelantikan—seolah mengingatkan, jalan yang ditempuh selepas ini bukan lagi milik pribadi, melainkan jalan pengabdian untuk ribuan jiwa di Kota Kasih.
Di luar gedung, langit sore kelihatan memerah. Seakan menjadi simbol, bahwa setiap awal kekuasaan selalu menyimpan senja yang bisa datang kapan saja. Jabatan boleh sementara, tetapi amanat rakyat tetap abadi.(Arnold).

Tinggalkan Balasan