WKRI DPC Samara Tofa Tegaskan Komitmen Dukung Program Kupang Sehat: Edukasi Publik untuk Putus Rantai Kekerasan dan HIV/AIDS

Dalam rangka memperkuat kepedulian masyarakat terhadap isu sosial yang kian kompleks, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC Samara Tofa menggelar Diskusi Publik bertema “Peduli Kasih, Putus Rantai, Melawan Stigma, Meraih Sehat Guna Menjawab Isu Sosial Dewasa Ini”. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025, bertempat di Aula Susteran Canossa, sebagai bentuk kontribusi nyata WKRI dalam mendukung program Kupang Sehat, terutama penanggulangan HIV/AIDS, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta fenomena prostitusi online.

Acara ini menghadirkan tiga narasumber yang berkompeten di bidangnya, yaitu:

  • Direktur LBH APIK NTT, Ansy Damaris Rihi Dara
  • Kanit PPA Polda NTT, AKBP Fridinari D. Kameo, SH
  • Sekretaris KPA Kota Kupang, Julius T. Bore

Mendorong Literasi Hukum dan Keberanian Korban untuk Bersuar

Dalam sesinya, Ansy Damaris Rihi Dara menegaskan bahwa kekerasan seksual tidak hanya berupa tindakan fisik atau pemerkosaan, tetapi mencakup seluruh perbuatan yang menghilangkan rasa aman korban.
Ia menekankan pentingnya literasi hukum bagi perempuan agar tidak terjebak dalam ketidakberdayaan.

“Kita harus berani bicara dan belajar. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi membiarkan kekerasan terjadi di rumah sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat menghapus budaya menyalahkan korban dan lebih fokus memberikan perlindungan, bantuan kesehatan, serta pendampingan hukum.

Pentingnya Kesaksian dan Kewaspadaan Orang Tua di Era Digital

AKBP Fridinari D. Kameo menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan atau memberikan kesaksian terhadap kasus kekerasan seksual.

“Kesaksian Anda bisa menyelamatkan korban,” tegasnya.

Ia juga mengungkap berbagai bentuk kekerasan seksual yang kerap dianggap sepele, termasuk tatapan tak pantas atau sentuhan tanpa izin.
Selain itu, ia mengingatkan tentang meningkatnya kasus eksploitasi seksual anak melalui platform digital, yang harus diwaspadai para orang tua dengan mengawasi penggunaan ponsel anak secara bijak.

Situasi HIV/AIDS di Kupang: Kasus Meningkat, Stigma Harus Diturunkan

Sekretaris KPA Kota Kupang, Julius T. Bore, memaparkan perkembangan HIV/AIDS yang mengkhawatirkan.
Sejak tahun 2000 hingga 2025, tercatat 2.543 kasus HIV. Pada periode Januari–September 2025 saja terdapat 173 kasus baru.

Salah satu temuan penting adalah tingginya infeksi pada kelompok ibu rumah tangga, sering kali akibat perilaku pasangan.
Ia juga menyampaikan bahwa sebagian besar kasus baru pada laki-laki terjadi pada kelompok usia muda, termasuk hubungan sesama jenis.

Julius mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal HIV dan mengutamakan tes dini.

“Orang yang tampak sehat belum tentu bebas dari infeksi. Tes dini itu penting.”

WKRI Dukung Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kupang Sehat

Diskusi ditutup dengan ajakan untuk membangun jaringan kerja sama antara keluarga, sekolah, komunitas keagamaan, dan aparat penegak hukum.
WKRI menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan edukasi, penyadaran, serta pendampingan masyarakat dalam menghadapi isu sosial yang berkembang cepat.

Melalui kegiatan ini, WKRI DPC Samara Tofa mempertegas perannya sebagai organisasi yang aktif mendorong perubahan sosial dan mendukung program Kupang Sehat—khususnya dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, perlindungan perempuan dan anak, serta upaya memutus rantai kekerasan dan prostitusi online. (Advertorial).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *