Panorama Dari Kaki Gunung Mutis, Bukit Leosikun Menyapa

Saenam, — Di antara bentangan pegunungan Pulau Timor yang sunyi dan sejuk, sebuah destinasi baru lahir membawa harapan besar bagi masyarakat desa. Namanya Bukit Leosikun, sebuah kawasan wisata alam yang kini menjadi kebanggaan Desa Saenam, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Diresmikan pada 31 Desember 2025, Bukit Leosikun tidak sekadar menambah daftar tujuan wisata di Nusa Tenggara Timur. Ia hadir sebagai contoh nyata bagaimana desa, dengan keterbatasan sumber daya, mampu mengelola potensi alam menjadi kekuatan ekonomi dan identitas baru.

Dari puncak Bukit Leosikun, mata pengunjung dimanjakan oleh lanskap spektakuler: Gunung Mutis dan Gunung Binone berdiri megah, diselimuti kabut tipis yang bergerak perlahan. Dari ketinggian, hamparan alam Timor Tengah Selatan terlihat seolah tanpa batas, menghadirkan sensasi berada “di atas langit”.

Suasana sejuk, hening, dan alami menjadikan tempat ini pilihan ideal untuk wisata keluarga, refleksi diri, hingga perjalanan spiritual.

“Ini bukan hanya tempat wisata, tapi ruang untuk berdamai dengan alam,” ujar salah satu pengunjung lokal.
Diresmikan dengan Doa dan Kebersamaan

Peresmian Bukit Leosikun berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara diawali dengan ibadat syukur dan pemberkatan, dipimpin oleh Pastor Paroki Eban, Romo Ignas Kabosu, Pr., disusul pemotongan pita sebagai tanda resmi dibukanya destinasi ini.

Hadir dalam momen tersebut unsur pemerintah, keamanan, dan masyarakat: Camat Miomaffo Barat, Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Barat, Kapolsek Miomaffo Barat, Anggota DPRD TTU, tenaga kesehatan, tokoh adat, tokoh agama, hingga Karang Taruna—menandai kolaborasi lintas sektor yang jarang terjadi namun sangat menentukan.

Kepala Desa Saenam, Fransiskus Nofu, menjelaskan bahwa pembangunan Bukit Leosikun sepenuhnya berangkat dari visi kemandirian desa.

Dengan Dana Desa Tahun 2025 sebesar Rp107 juta, pemerintah desa bersama masyarakat dan diaspora membangun akses jalan, tangga berwarna, spot foto, pelataran, serta lopo sebagai tempat istirahat. Proyek ini juga mendapat dukungan penuh dari Anggota DPRD TTU, Veronika Lake, MM.

“Kami ingin pariwisata menjadi pintu masuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Fransiskus.

Ke depan, kawasan ini dirancang memiliki kolam renang, lintasan jogging, serta menjadi titik transit pendaki Gunung Binone. Lokasinya juga strategis—berdekatan dengan Taman Wisata Au Eden dan Air Terjun Pah Koto, membentuk satu jalur wisata alam terpadu di kaki Gunung Mutis.

Para pemangku kepentingan sepakat bahwa Bukit Leosikun memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal.
Anggota DPRD TTU Veronika Lake menilai destinasi ini dapat membuka peluang baru bagi UMKM, homestay, kuliner lokal, dan produk kerajinan desa.

“Pariwisata berbasis desa seperti ini adalah masa depan pembangunan daerah,” katanya.

Sementara itu, Camat Miomaffo Barat Markus Nesi menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan. Aparat keamanan dan tenaga kesehatan turut mengingatkan soal ketertiban, promosi, serta fasilitas kesehatan demi kenyamanan pengunjung.

Dalam waktu dekat, Pemerintah Desa Saenam bersama Karang Taruna berencana menggelar event budaya dan pertunjukan seni lokal di Bukit Leosikun—sebuah upaya memperkenalkan kekayaan budaya Timor kepada khalayak yang lebih luas.

Bukit Leosikun kini bukan hanya milik masyarakat Saenam, atau TTU. Ia adalah cerita tentang desa yang bangkit, alam yang dijaga, dan masa depan yang dirancang bersama.
Dari kaki Gunung Mutis, Bukit Leosikun menyapa Indonesia—tenang, indah, dan penuh harapan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *