Kupang— Di tengah krisis iklim dan ancaman degradasi lingkungan yang kian memuncak, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Benain Noelmina, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggulirkan strategi revolusioner: menjadikan desa sebagai ujung tombak pelestarian lingkungan. Langkah ini dinilai sebagai gebrakan nyata dalam membumikan gerakan hijau dari bawah, langsung menyentuh masyarakat akar rumput.
Kepala BPDAS Benain Noelmina, Kludolfus Tuames, SP, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya urusan kementerian atau lembaga pusat. Desa-desa harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan ekosistem berkelanjutan di tengah perubahan iklim yang semakin tidak terprediksi.
“Kelestarian alam adalah warisan tak tergantikan untuk generasi mendatang. Partisipasi aktif dari desa-desa adalah kunci. Kami tidak bisa bekerja sendiri,” ujar Kludolfus ruang kerjanya di Kupang, Kamis (24/7/2025).
Dana Desa, Amunisi Baru untuk Gerakan Lingkungan
Lebih dari sekadar ajakan, BPDAS telah menyiapkan aksi nyata. Ribuan bibit tanaman siap didistribusikan ke desa-desa yang berkomitmen melakukan penghijauan. Kludolfus mendorong pemerintah desa untuk menggunakan dana desa secara kreatif dalam kegiatan pelestarian seperti rehabilitasi lahan, penanaman pohon, dan pemeliharaan ekosistem lokal.
“Kami siap mendukung penuh. Bibit sudah tersedia. Kami harap desa menyiapkan lahan dan merawatnya secara berkelanjutan. Ini bukan proyek musiman, tapi gerakan hidup,” tegasnya.
Langkah ini disebut sebagai wujud kolaborasi konkret antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek utama dalam menjaga bumi tetap hijau.
NTT, Antara Keterbatasan dan Harapan
Sebagai provinsi dengan curah hujan rendah dan kerentanan tinggi terhadap degradasi lahan, NTT menghadapi tantangan lingkungan yang serius. Alih fungsi lahan, kerusakan hutan, serta ancaman banjir bandang dan kekeringan menjadi sinyal peringatan akan pentingnya perubahan paradigma.
“Lahan kritis kita masih sangat luas. Kalau tidak ditangani sekarang, ancamannya bisa menghantam ekonomi masyarakat desa. Air sulit, panen gagal. Ini soal keberlangsungan hidup,” ujar Kludolfus.
Sinergi Sosial, Pilar Revolusi Hijau
Menurut Kludolfus, kekuatan desa bukan hanya pada anggaran, tetapi juga pada struktur sosial yang solid hingga level RT/RW. Gotong royong, katanya, bisa menjadi motor penggerak perubahan iklim lokal.
Ia mengajak desa untuk memasukkan program lingkungan ke dalam RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa), agar gerakan ini tidak hanya bersifat temporer, melainkan menjadi bagian dari sistem perencanaan jangka panjang dengan alokasi anggaran yang terstruktur.
“Kalau desa bergerak, masyarakat pasti ikut. Ini bukan sekadar tanam pohon, tapi tanam harapan. Harapan untuk lingkungan, pangan, dan masa depan yang lebih baik.”
Menanam Masa Depan: Hijaukan, Pulihkan, Sejahterakan
BPDAS optimistis bahwa dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, hasil dari gerakan ini akan terasa nyata: NTT yang lebih hijau, subur, dan mandiri secara ekologis serta ekonomis. Selain mengurangi dampak perubahan iklim, tanaman produktif seperti kelor, jambu mete, hingga buah lokal lainnya bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Mari kita mulai dari sekarang. Dari satu pohon di satu halaman rumah, hingga ribuan pohon di lahan kritis. Kita sedang menanam masa depan,” pungkas Kludolfus.(Arnold)

Tinggalkan Balasan