TTS – Di tengah minimnya generasi muda yang tertarik bertani, seorang anak muda dari Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), justru menjadikannya sebagai medan perjuangan. Namanya Peter Salem, sosok visioner yang mengguncang dunia pertanian dengan inovasi dan kegigihannya. Tak heran, langkahnya yang berani ini mendapat apresiasi langsung dari Anggota DPR RI, Usman Husin, yang menilai Peter sebagai simbol kebangkitan petani milenial NTT.
Di saat banyak anak muda lebih memilih meninggalkan kampung halaman demi mencari pekerjaan di kota, Peter justru memilih jalan sebaliknya. Ia melihat pertanian bukan sekadar profesi, melainkan misi besar: membuktikan bahwa tanah Timor bisa menjadi sumber kesejahteraan jika dikelola dengan cerdas.
Berbekal ilmu, tekad, dan keberanian, Peter menerapkan metode pertanian modern yang efisien, meningkatkan produktivitas lahan, dan mengajarkan para petani bagaimana mengelola pertanian secara berkelanjutan.
“Orang bilang tanah Timor kering, tandus, dan sulit untuk bertani. Tapi saya percaya, bukan tanahnya yang bermasalah, melainkan cara kita mengelolanya,” ujar Peter penuh keyakinan.
Usman Husin: Peter Adalah Harapan Baru
Keberanian Peter tak luput dari perhatian Usman Husin, anggota DPR RI asal NTT dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia menilai sosok seperti Peter adalah bukti bahwa pertanian tidak boleh lagi dipandang sebagai jalan buntu, melainkan sebagai masa depan yang cerah bagi NTT.
“Kita butuh lebih banyak anak muda seperti Peter. Mereka yang tidak hanya berani bermimpi, tapi juga bertindak nyata. Peter adalah simbol harapan bahwa pertanian bisa menjadi pilar utama ekonomi daerah jika dikelola dengan inovasi dan semangat juang,” tegas Usman.
Peter Salem telah membuktikan bahwa pertanian bukanlah sektor usang yang hanya diwarisi tanpa perubahan. Ia mengajarkan bahwa dengan kreativitas dan teknologi, pertanian bisa menjadi kekuatan ekonomi baru. Kini, tantangan terbesar adalah: berapa banyak lagi anak muda yang siap mengikuti jejaknya?
Peter tidak butuh tepuk tangan, tidak menunggu dukungan, dan tidak meminta belas kasihan. Ia bergerak, berinovasi, dan membuktikan bahwa pertanian adalah masa depan.
“Jika kita terus mengandalkan beras dari luar, terus mengeluh soal kemiskinan, tapi tidak mau mengolah tanah sendiri, maka kita bukan hanya kehilangan lahan, tapi juga harga diri,” pungkasnya dengan tajam.
Kini, saatnya anak muda NTT membuka mata. Peter sudah membuktikan jalannya. Apakah kita akan terus menjadi penonton, atau justru mengambil bagian dalam revolusi pertanian yang sesungguhnya?

Tinggalkan Balasan