“Dari Mendengar ke Menulis: Kenapa Prabowo Subianto Adalah Teladan Wartawan Sejati”

Kupang,-Jurnalistik adalah sebuah profesi yang menuntut lebih dari sekadar kemampuan menulis. Lebih dari itu, seorang wartawan sejati harus mampu mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat dengan cermat, dan menyampaikan fakta dengan akurasi yang tak bisa ditawar. Inilah pelajaran penting yang bisa kita ambil dari sebuah pertemuan yang tak terduga antara Prabowo Subianto, yang kala itu berperan sebagai wartawan, dengan mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Emil Salim.

Prabowo Subianto, seorang tokoh besar dengan latar belakang yang sangat luas, tak hanya dikenal sebagai seorang politisi, tetapi juga sebagai seorang yang memahami nilai-nilai dasar dalam dunia jurnalistik. Di tengah pertemuan dengan Prof. Emil Salim, yang merupakan tokoh cendekiawan dan pakar lingkungan hidup, Prabowo memilih untuk tidak terburu-buru bertanya atau menyela. Sebaliknya, dia mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat setiap kata yang disampaikan oleh sang mantan Menteri.

Apa yang terlihat begitu sederhana ini, sebenarnya menyimpan pelajaran yang sangat dalam untuk para wartawan masa kini. Di zaman yang serba cepat ini, di mana banyak wartawan yang lebih memilih untuk berbicara daripada mendengarkan, sikap Prabowo Subianto patut menjadi teladan.

Mendengar Lebih Banyak, Berbicara Lebih Sedikit

Dalam dunia jurnalistik, kita sering kali terjebak dalam keinginan untuk cepat-cepat mendapatkan informasi dan kemudian menyampaikannya. Namun, terkadang kita lupa untuk memberi ruang bagi narasumber untuk berbicara, untuk menceritakan kisah mereka dengan detil yang sesungguhnya penting. Di sinilah letak pentingnya mendengarkan dengan seksama.

Prabowo, meskipun sudah sangat berpengalaman di dunia politik, memilih untuk mendengarkan dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Hal ini menjadi bukti bahwa mendengar adalah keterampilan yang jauh lebih berharga daripada berbicara. Dengan mendengarkan, wartawan bisa mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan penuh warna, yang kemudian bisa disampaikan kepada publik dengan akurat.

Pentingnya mendengarkan yang benar berujung pada kualitas penulisan yang lebih baik. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Prabowo, yang tidak hanya mencatat, tetapi juga menulis dengan sangat cermat, wartawan harus memiliki ketelitian dalam menulis. Setiap kata dan kalimat yang disampaikan oleh narasumber harus tercatat dengan benar, tanpa ada yang diselewengkan.

Menulis yang benar bukan hanya soal ejaan atau tata bahasa yang tepat, tetapi juga tentang memastikan bahwa informasi yang disampaikan sesuai dengan kenyataan. Ketika seorang wartawan menulis dengan cermat, mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membangun sebuah narasi yang dapat dipercaya oleh publik. Ini adalah salah satu tantangan terbesar dalam profesi jurnalistik—untuk bisa mengartikulasikan kebenaran tanpa menambah atau mengurangi apapun.

Prabowo Subianto sebagai seorang wartawan di masa lalu menunjukkan bahwa jurnalisme bukan hanya tentang melaporkan peristiwa, tetapi tentang menjaga integritas dan objektivitas. Dalam dunia yang sering kali dibayangi oleh informasi yang dipolitisasi dan diputarbalikkan, integritas adalah aset yang sangat mahal. Mengutip kata-kata Prabowo dalam pertemuannya dengan Prof. Emil Salim, kita diajarkan bahwa jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang memegang teguh prinsip mendengarkan, mencatat, dan menyampaikan dengan sebaik-baiknya.

Jika para wartawan masa kini mengikuti contoh ini—dengan mendengarkan lebih banyak dan menulis dengan hati-hati—maka mereka akan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari publik. Kepercayaan itu bukan hanya karena kemampuan mereka untuk mencari informasi, tetapi juga karena kemampuan mereka untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang jelas, tepat, dan adil.

Siapa yang bisa menduga bahwa seorang tokoh seperti Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, pernah menempuh perjalanan panjang sebagai seorang wartawan? Perjalanan ini menunjukkan bahwa dasar-dasar jurnalisme yang baik—mendengarkan dengan seksama dan menulis dengan cermat—dapat membentuk karakter seorang pemimpin. Bahkan ketika beliau menginjakkan kaki di dunia politik, nilai-nilai ini tetap membimbingnya untuk menjadi seorang pemimpin yang memahami pentingnya komunikasi yang jujur dan akurat.

Terimakasih Pak Prabowo, bukan hanya karena Anda pernah menjadi seorang wartawan yang cermat, tetapi karena Anda juga mengajarkan kami pentingnya mendengarkan dengan lebih banyak dan menulis dengan lebih benar. Pelajaran ini adalah pelajaran yang harus dipegang teguh oleh wartawan masa kini, untuk tetap menjaga kepercayaan publik dan memberikan informasi yang bukan hanya informatif, tetapi juga mendalam dan penuh makna.

Maka, bagi kita semua yang kini mengenakan topi wartawan, mari kita belajar dari teladan yang diberikan Prabowo Subianto. Di dunia yang terus bergerak cepat, di mana informasi sering kali terdistorsi oleh sensasionalisme, mari kita kembali pada dasar-dasar jurnalisme yang hakiki: mendengarkan lebih banyak dan menulis yang benar, jelas, dan cermat. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa mengemban tugas mulia sebagai pilar demokrasi yang sejati.

Sungguh, inilah jurnalisme yang seharusnya kita junjung—jurnalisme yang mengutamakan kebenaran, bukan kecepatan atau kepentingan sesaat. Mari berpegang pada prinsip ini, dan biarkan dunia jurnalistik kita kembali kepada esensinya.( Arnold Fobia)

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *