Dari NTT, Gubernur Melki Sampaikan Belasungkawa dan Ajakan Meneladani Paus Fransiskus

Kupang, – Dunia berduka. Paus Fransiskus, pemimpin spiritual bagi lebih dari satu miliar umat Katolik dan figur berpengaruh bagi seluruh umat manusia, telah wafat pada Senin, 21 April 2025, di usia 88 tahun. Kabar duka ini menyisakan kesedihan mendalam, namun juga menginspirasi refleksi atas warisan abadi yang ditinggalkannya: sebuah kehidupan yang didedikasikan untuk pelayanan, keadilan, dan kemanusiaan.

  • Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan duka cita mendalam atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat NTT, lintas agama, atas kepergian Paus Fransiskus. Dalam pernyataan resmi di Rumah Jabatan Gubernur pada Senin malam, Gubernur Melki mengenang Paus Fransiskus sebagai teladan kemanusiaan yang luar biasa. “Kepergian beliau bukan hanya duka bagi umat Katolik, tetapi juga bagi seluruh umat manusia yang mencintai beliau,” tegas Gubernur Melki.Gubernur Melki menekankan komitmen Paus Fransiskus yang tak kenal lelah untuk membela kaum terpinggirkan. Sejak masa mudanya di Argentina hingga kepemimpinannya di Vatikan, Paus Fransiskus konsisten memperjuangkan keadilan sosial dan martabat manusia. “Beliau menunjukkan keberpihakan total kepada orang-orang yang terpinggirkan, yang sering terlupakan dalam perjalanan bangsa-bangsa di dunia,” ungkap Gubernur Melki.

    Kisah-kisah inspiratif Paus Fransiskus menjadi sorotan. Ritual pembasuhan kaki pada Kamis Putih, yang dilakukannya kepada narapidana, migran, penghuni panti jompo, bahkan non-Katolik, menjadi simbol nyata kerendahan hati, pelayanan, dan cinta kasihnya yang tak kenal batas. Gubernur Melki menjelaskan, tindakan ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi sebuah pesan kuat tentang kemanusiaan yang harus diutamakan di atas segalanya, terlepas dari perbedaan politik, konflik, atau latar belakang.

    Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 juga dikenang dengan haru. Sebelum memimpin misa akbar di Stadion Gelora Bung Karno, Paus Fransiskus secara khusus meluangkan waktu untuk bertemu dengan penyandang disabilitas di kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Ia juga bertemu dengan Menteri Agama dan Imam Besar Masjid Istiqlal, sebuah tindakan yang menggarisbawahi komitmennya untuk membangun jembatan persatuan dan kedamaian lintas agama. Pertemuan ini mengukuhkan citranya sebagai tokoh yang mampu menjembatani perbedaan demi kebaikan bersama.

    Gubernur Melki mengajak seluruh masyarakat NTT, dan seluruh Indonesia, untuk meneladani semangat pelayanan dan perjuangan kemanusiaan Paus Fransiskus. “Kepergian beliau adalah panggilan bagi kita untuk meneruskan perjuangannya, memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas, dan terus membangun persatuan lintas agama,” ajaknya.

    Sebagai puncak penghormatan, Gubernur Melki memimpin momen hening sejenak dan doa bersama ribuan peserta pawai Paskah terbesar se-Indonesia Timur di Bundaran Tirosa pada Senin sore. Momen tersebut menjadi refleksi bersama atas kepergian pemimpin spiritual yang telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.

    Paus Fransiskus telah meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Ia bukan hanya seorang pemimpin agama, tetapi juga seorang aktivis kemanusiaan yang gigih. Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk selalu berjuang demi keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan yang lebih baik. Semoga semangat dan teladannya terus hidup dalam hati setiap orang yang mengenangnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *