Kupang – Kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT) kian menjadi ironi. Di tengah klaim angka kemiskinan menurun, kenyataan di lapangan berbicara sebaliknya: rakyat miskin terus berjuang bertahan hidup, sementara segelintir elit hidup nyaman dalam kemewahan. Disparitas ini menjadi pukulan telak bagi pemerintah yang seolah tutup mata terhadap realitas yang menganga.
“Bagaimana mungkin kemiskinan dikatakan turun sementara petani gagal panen, pengangguran meningkat, bahkan banyak orang bunuh diri karena masalah ekonomi? Ini adalah penghinaan terhadap logika dan rasa keadilan,” seru Yuvensius Tukung, Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah NTT.
Ia menuding data survei yang digunakan pemerintah sebagai pijakan kebijakan hanyalah permainan angka yang jauh dari kenyataan. Data palsu, menurutnya, hanya melanggengkan penderitaan rakyat dan menjadi dalih kegagalan pemerintah dalam menuntaskan masalah kemiskinan.
Bansos: Solusi Semu yang Menjebak
Yuvensius juga menyebut bantuan sosial (bansos) sebagai bentuk “pemberdayaan semu” yang justru memelihara kemiskinan. “Bansos bukan solusi, tapi jebakan. Ini hanya membuat masyarakat bergantung tanpa memberi mereka alat untuk mandiri,” tegasnya.
Ia mengkritik keras kebijakan pemerintah yang lebih fokus pada bantuan instan ketimbang pemberdayaan. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah program pelatihan keterampilan dan akses pekerjaan agar masyarakat bisa keluar dari jerat kemiskinan.
Kesenjangan yang Membakar NTT
Ketimpangan sosial di NTT adalah bukti nyata kegagalan kebijakan. Segelintir orang menikmati kekayaan, sementara mayoritas terjebak dalam siklus kemiskinan. “Kita hidup di wilayah yang kaya akan sumber daya, tapi rakyat tetap miskin. Ini bukan hanya soal ketidakmampuan, tapi soal pengkhianatan terhadap rakyat kecil,” kata Yuvensius dengan nada keras.
Sebagai bentuk perlawanan, Pemuda Katolik NTT mengelola lahan hortikultura di Timor Tengah Selatan, memberdayakan pemuda dari keluarga miskin untuk belajar bercocok tanam dan menciptakan peluang kerja. “Ini bukti bahwa perubahan tidak hanya soal teori, tapi aksi nyata,” tambahnya.
Yuvensius menutup dengan pesan tajam, “Rakyat tidak butuh janji kosong. Jika pemerintah serius, data riil harus jadi fondasi, dan pemberdayaan harus jadi prioritas. Jika tidak, jurang kemiskinan ini akan terus membesar, dan rakyat yang akan membayar harganya.”
Kemiskinan di NTT bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah cerita tentang ketidakadilan yang nyata, di mana kebijakan tanpa arah terus mengorbankan mereka yang paling lemah.( Arnold)

Tinggalkan Balasan