SOE, – Di tengah keterbatasan yang membayangi ruang-ruang kelas di SMA Kristen Kesetnana dan SMKN 1 Soe, hari ini hadir secercah harapan. Tidak hanya berupa kata-kata penyemangat, tetapi aksi nyata yang membakar semangat perjuangan anak-anak di sekolah ini.
Kunjungan Ibu Yusintha Ningsih Nenobahan bukan sekadar seremonial, bukan hanya sekadar mendengar keluh kesah. Ia datang membawa kepedulian yang nyata—bantuan berupa meja, sejumlah uang tunai, serta semangat yang tak ternilai harganya. Lebih dari itu, ada pesan yang ingin ditanamkan: bahwa perjuangan bukan soal keterbatasan, tetapi tentang bagaimana kita menyikapinya.
“Ini bukan tentang jumlah, bukan tentang nilai rupiah. Ini tentang bagaimana kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Kalian adalah generasi emas bangsa ini, dan keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” ujar Ibu Yusintha di hadapan siswa-siswi yang dengan antusias menyambutnya.
Meja yang diberikan mungkin tampak seperti benda mati bagi sebagian orang. Tetapi di sini, meja adalah tempat harapan dituliskan, tempat impian mulai dirancang. Begitu pula dengan bantuan uang tunai, bukan sekadar lembaran rupiah, melainkan pesan bahwa ada tangan yang peduli, bahwa perjuangan anak-anak ini tidak berjalan sendiri.
Seorang siswa menyampaikan dengan suara bergetar, “Kami tidak meminta belas kasihan, kami hanya ingin kesempatan yang sama seperti anak-anak lain di kota besar. Hari ini, kami merasa didengar, diperhatikan, dan itu memberi kami semangat untuk terus maju.”
Di sudut lain, seorang guru tak mampu menyembunyikan air matanya. “Hari ini anak-anak belajar sesuatu yang lebih dari sekadar pelajaran di buku. Mereka belajar bahwa harapan itu nyata, bahwa masih ada orang yang benar-benar peduli.
Setelah berdialog dengan para siswa dan guru, kegiatan diakhiri dengan penanaman anakan pohon di kompleks sekolah. Sebuah simbol bahwa seperti pohon, harapan dan perjuangan juga harus ditanam, dirawat, dan dijaga agar bisa tumbuh kokoh.
Masing-masing siswa dan guru turut menanam anakan, menyentuh tanah dengan tangan mereka sendiri—sebuah lambang bahwa pendidikan, seperti sebuah pohon, butuh akar yang kuat dan perawatan yang berkelanjutan.
“Hari ini kita tanam pohon, sama seperti kita menanam harapan. Pohon ini akan tumbuh besar jika kita rawat, seperti halnya mimpi-mimpi kalian yang akan terwujud jika kalian terus berjuang. Jangan pernah takut pada keterbatasan, karena kalian lebih besar dari itu”,ujar Yusintha.
Tanah yang digali, bibit yang ditanam, dan tangan-tangan yang menyentuh bumi adalah lambang bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih cerah.
Kita Tidak Bisa Bicara Masa Depan Jika Masih Ada Anak yang Berjuang Sendirian
Hari ini, di SMA Kristen Kesetnana dan SMKN 1 Soe, harapan kembali tumbuh. Tapi pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan harapan ini redup kembali?
Sudah terlalu banyak janji yang hanya berakhir di meja rapat. Terlalu banyak program yang hanya menjadi angka dalam laporan tahunan. Pendidikan tidak bisa terus menjadi sekadar proyek. Pendidikan adalah hak. Pendidikan adalah kehidupan.
Kunjungan ini harus menjadi tamparan bagi mereka yang punya kuasa. Jika seorang ibu, seorang pribadi, bisa hadir dan melakukan sesuatu, lalu di mana peran negara?
Hari ini, anak-anak di SMA Kristen Kesetnana dan SMKN 1 Soe belajar bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa harapan itu ada. Bahwa selama masih ada orang-orang yang peduli, masa depan mereka tetap bisa diperjuangkan.

Tinggalkan Balasan