Tubuhue,— Dalam nuansa penuh sukacita dan kesakralan, Stenly Naitboho, putra dari pasangan Simon Naitboho dan Erna Nubatonis, dan Lady Benu, putri dari almarhum Maxy Benu dan Demaris Nubatonis, resmi dipersatukan dalam pernikahan kudus yang berpadu erat dengan adat istiadat Timor. Rangkaian peristiwa bersejarah ini berlangsung di Gereja Betlehem Huemnanu, Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, pada Jumat, 27 Juni 2025, dipimpin oleh Pendeta Yonatan Neno, S.Th.
Namun, sebelum tiba pada momen pemberkatan suci di hadapan altar gereja, kedua keluarga besar telah menempuh proses adat yang luhur dan penuh makna, dimulai sejak malam sebelumnya. Prosesi puamnasi – manumnasi—sebuah tahapan penting dalam adat pernikahan suku Timor—dilaksanakan dengan penuh khidmat dan kehormatan. Dalam budaya ini, adat bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang memperkuat kesatuan dua keluarga melalui simbol, kata-kata bijak, dan tindakan penuh penghormatan.

Adapun seluruh proses adat ini dikendalikan langsung oleh tokoh-tokoh utama dari masing-masing pihak keluarga. Dari pihak mempelai laki-laki, penanggung jawab adat adalah Bapak Jonathan Nubatonis, seorang sesepuh yang dihormati karena kearifan dan keteguhan menjunjung budaya. Sementara dari pihak mempelai perempuan, jalannya adat diatur dengan bijak oleh Bapak Ardy Benu, yang tak hanya mewakili keluarga besar, tetapi juga menjadi penghubung nilai-nilai luhur dalam setiap tutur dan tindakan.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Bapak Jonathan Nubatonis menegaskan pentingnya pelestarian budaya dalam setiap momentum sakral seperti pernikahan. “Dalam budaya Timor, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi dua keluarga besar. Tahapan adat harus dilalui: masuk minta, sampaikan adat, dan kemudian puamnasi – manumnasi. Setelah semua terlaksana dengan baik, barulah pasangan dibawa ke gereja untuk diteguhkan secara rohani, dan kemudian disahkan oleh negara melalui catatan sipil,” jelasnya.

Rangkaian pemberkatan berlangsung dengan tenang, sakral, dan penuh keharuan. Jemaat yang hadir menyaksikan janji suci kedua mempelai dalam suasana batin yang mendalam, disertai pujian syukur dan doa yang mengalir dalam damai. Dua insan kini disatukan tidak hanya oleh cinta, tetapi oleh restu langit, leluhur, dan masyarakat adat.
Malam harinya, suasana sukacita berlanjut dalam resepsi adat, yang berlangsung meriah namun tetap sarat makna. Para tamu disambut dengan penuh keramahan dalam semangat kekeluargaan. Lagu-lagu tradisional mengalun, tarian adat mewarnai suasana, dan petuah dari para tetua menjadi benih kebijaksanaan bagi generasi yang sedang tumbuh.

Pernikahan antara Stenly Naitboho dan Lady Benu adalah cermin bagaimana iman, kasih, dan budaya dapat berpadu menjadi satu harmoni kehidupan. Ini bukan hanya kisah dua anak manusia, tetapi sebuah teladan bahwa di tengah arus modernisasi, masih ada generasi muda yang dengan bangga memeluk akar budayanya sambil melangkah dalam terang iman dan hukum negara.
Dari tanah Tubuhue yang tenang dan subur, sejarah hari ini ditulis dalam tinta adat dan kasih — mengajarkan kita bahwa kebahagiaan yang sejati lahir dari penghormatan kepada Tuhan, sesama, dan warisan budaya kita sendiri.(Arnold).

Tinggalkan Balasan