Launching Buku 100 Hari Kerja Melki-Johni: Gubernur NTT Tegaskan Gotong Royong sebagai Fondasi Utama Pembangunan Berkelanjutan

Kupang,— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur resmi meluncurkan dua buku dokumenter bertajuk “Gerak Langkah Pemimpin di Bumi Flobamorata (100 Hari Kerja Melki-Johni di Provinsi NTT)” dan “Menjahit Asa Pemimpin di Bumi Flobamorata Menuju NTT Centris”, pada sebuah acara yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat malam (30/5). Kedua karya ini disusun oleh tim penulis internal yang terdiri dari para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT, di bawah koordinasi Kepala BKD Provinsi NTT, Yosef Rasi.

Buku-buku tersebut tidak hanya menjadi catatan retrospektif atas 100 hari kerja pertama Gubernur Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur Johanis Asadoma, tetapi juga menjadi refleksi strategis atas pijakan awal kepemimpinan mereka dalam menggerakkan roda pembangunan di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi NTT.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan di NTT hanya akan terwujud bila seluruh elemen masyarakat mengedepankan semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada tim penulis yang telah mendokumentasikan dinamika 100 hari awal kami. Ini bukan sekadar buku, tapi penanda awal dari visi besar membangun NTT yang berakar pada semangat kolektif. Gotong royong bukan jargon—ini adalah strategi pembangunan,” tegas Gubernur Melki.

Gubernur menyoroti bahwa tantangan pembangunan di NTT—baik dalam bidang infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi lokal—terlalu kompleks untuk ditangani oleh pemerintah saja. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari masyarakat, pelaku usaha, mitra pembangunan, komunitas diaspora, serta lembaga non-pemerintah dalam mewujudkan agenda pembangunan yang inklusif dan transformatif.

“Provinsi ini tidak boleh dibangun dengan ego sektoral. Kita harus menanggalkan semangat kompetisi yang destruktif dan menggantinya dengan kolaborasi strategis. Arah baru yang kami dorong adalah NTT Centris—pembangunan yang tidak terpusat pada satu wilayah saja, tapi menjangkau seluruh pelosok dengan keadilan distribusi sumber daya,” ujarnya penuh penekanan.

Dalam konteks 100 hari pertama, Gubernur dan Wakil Gubernur telah melakukan kunjungan kerja ke 22 kabupaten/kota, menjaring aspirasi langsung masyarakat, menyerap isu-isu krusial daerah, serta menjalin sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota. Hal ini menjadi fondasi untuk menyusun kebijakan berbasis kebutuhan nyata, bukan asumsi birokratis.

“Spirit Ayo Bangun NTT adalah ajakan moral sekaligus panggilan strategis. Tidak boleh ada daerah yang tertinggal, tidak boleh ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Kita bangun NTT dengan semangat yang merangkul, bukan yang memisah. Inilah roh kepemimpinan Melki-Johni,” tambahnya.

Acara peluncuran buku ini turut dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi NTT, pimpinan perangkat daerah, mitra kerja strategis, serta insan pers. Keterlibatan berbagai unsur ini mempertegas pendekatan inklusif yang diusung dalam pemerintahan Melki-Johni—bahwa pembangunan adalah kerja kolektif, bukan proyek eksklusif elit birokrasi.

Dengan diluncurkannya kedua buku ini, Pemerintah Provinsi NTT sekaligus menyampaikan pesan penting: bahwa setiap langkah kepemimpinan harus terdokumentasi, terbuka untuk evaluasi, dan terus bersandar pada prinsip akuntabilitas publik. Buku ini adalah bukti awal bahwa Melki-Johni tidak bekerja diam-diam, tetapi bekerja dalam terang kesadaran penuh.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *