Nasi,-Desa Nasi Berduka, TTS Menangis. Kabar wafatnya Markus Tafuli, Kepala Desa Nasi, Kecamatan Amanatun Utara, pada Kamis, 16 Januari 2025, mengguncang Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tak sekadar seorang pemimpin, ia adalah simbol perjuangan, inspirasi perubahan, dan teladan dalam kepemimpinan desa. Kehilangan ini menciptakan duka mendalam, bukan hanya bagi warga Desa Nasi, tetapi juga bagi 266 kepala desa se-TTS yang menjadikannya panutan.
Markus Tafuli bukan kepala desa biasa. Ia adalah inovator, penggerak perubahan, dan bapak pembangunan. Melalui visinya, gotong royong masyarakat Desa Nasi berbuah manis: rumah layak huni permanen untuk semua warganya. Di tengah segala keterbatasan, ia membuktikan bahwa harapan bukanlah sekadar angan, tetapi sesuatu yang bisa diwujudkan dengan kerja keras dan kepemimpinan yang tulus.
Tak hanya itu, Markus adalah pendiri Forum Kepala Desa (Forkades) TTS, wadah strategis yang menyatukan para kepala desa untuk berdiskusi, berbagi, dan menciptakan terobosan. Di bawah kepemimpinannya, Forkades bukan hanya forum, tetapi simbol solidaritas untuk membangun desa-desa di TTS.
Markus Tafuli adalah pemimpin langka. Tegas dalam menjalankan tugas, namun rendah hati dan penuh cinta terhadap rakyatnya. Ia tak pernah membiarkan keluhan warganya terabaikan. Setiap tangisan, setiap harapan, selalu ia jawab dengan tindakan nyata.
“Bapak Markus Tafuli adalah sosok yang sulit tergantikan. Tegas, tapi tidak arogan. Humanis, tapi tidak lemah. Desa Nasi tidak hanya kehilangan kepala desa, tetapi kehilangan seorang bapak,” ungkap Karolus H. Lakapu, S.Fil, Sekretaris Forkades TTS, dengan suara bergetar saat melayat ke rumah duka.
TTS Kehilangan Sosok Tak Tergantikan
Duka ini tak hanya milik Desa Nasi, tetapi milik seluruh TTS. Markus adalah cerminan pemimpin desa sejati—berani, inovatif, dan berdedikasi. Elky Selan, Kepala Desa Nulle, menyebut kehilangan Markus adalah pukulan besar bagi Forkades.
“Kami semua merasa kehilangan. Beliau bukan hanya teman, tetapi juga inspirasi. Kami berharap pemerintah daerah memberikan perhatian khusus untuk mengenang jasa besar kepala desa yang telah tiada,” ujar Elky dengan penuh haru.
Kepala Desa Boentuka, Apris Fuah, bahkan menyerukan agar pemerintah menciptakan penghargaan khusus untuk kepala desa yang wafat. “Mereka adalah tulang punggung pemerintahan desa. Kita harus menghormati jasa mereka,” tegasnya.
Jejak Abadi Seorang Pejuang Desa
Meski raganya telah tiada, nama Markus Tafuli akan terus hidup dalam setiap rumah, jalan, dan senyum warga Desa Nasi. Forkades TTS berjanji akan membantu keluarga almarhum mengurus hak-hak asuransinya sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sang pemimpin.
Kehilangan Markus Tafuli adalah peringatan keras bahwa pemimpin sejati seperti dia adalah aset langka. Di era di mana kepemimpinan sering dipertanyakan, Markus adalah bukti nyata bahwa seorang pemimpin dapat menjadi cahaya bagi warganya.
Markus Tafuli bukan hanya kepala desa, ia adalah pahlawan. Kehilangannya adalah duka yang tak terlukiskan, tetapi warisannya akan tetap hidup. Selamat jalan, Bapak Perubahan. Desa Nasi dan TTS tak akan melupakanmu.

Tinggalkan Balasan