Kupang,– Pelestarian lingkungan di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini menjadi prioritas utama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Benain Noelmina di bawah kepemimpinan Dolfus Tuames. Dalam wawancara eksklusif pada 23 Januari 2025, Tuames menggambarkan betapa besar potensi sumber daya alam NTT, tetapi minimnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan yang terus diperjuangkan.
“Kita kaya dengan potensi air, tetapi sayangnya, kesadaran untuk menanam pohon masih rendah,” ujar Tuames. Menurutnya, inisiatif nyata harus dimulai dari akar permasalahan: memberikan akses mudah kepada masyarakat untuk menanam pohon. “Kami menyediakan bibit pohon gratis, tetapi dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk keberhasilan program ini,” tambahnya.
BPDAS Benain Noelmina mengusung program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang mencakup penanaman pohon, pembangunan kebun bibit rakyat (KBR), kebun bibit desa (KBD), hingga bantuan langsung masyarakat (BLM). Program ini dirancang untuk menjawab tiga kebutuhan utama: ekologis, ekonomi, dan sosial.
Dari sisi ekologis, Tuames menjelaskan bahwa menanam pohon adalah kunci memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan cadangan air, dan mencegah bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
Secara ekonomi, pohon produktif seperti kayu-kayuan dan buah-buahan dipilih agar masyarakat dapat merasakan manfaat finansial dalam jangka panjang.
Sementara secara sosial, gerakan ini mendorong kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan budaya sadar lingkungan.
“Pohon-pohon yang kami tanam bukan hanya soal lingkungan. Ini juga soal masa depan ekonomi masyarakat. Bayangkan hasil buah-buahan dan kayu dari pohon-pohon ini bisa menjadi tambahan penghasilan bagi petani lokal,” katanya penuh optimisme.
Melawan Pola Pikir Lama, Membangun Masa Depan Baru
Namun, perjuangan ini bukan tanpa rintangan. Salah satu tantangan terbesar adalah pola pikir masyarakat yang masih terjebak dalam keterbatasan ekonomi. “Mengubah mindset masyarakat adalah pekerjaan besar. Mereka belum sepenuhnya memahami bahwa menanam pohon bukan hanya tentang penghijauan, tetapi juga solusi ekonomi,” tegas Tuames.
Ia menambahkan, edukasi dan pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat adalah kunci untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menanam pohon. “Kami hadir untuk membangun sinergi, menyediakan bibit produktif, dan memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mulai bertindak,” ujarnya.
Program RHL yang dijalankan BPDAS menargetkan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) di NTT sebagai fokus utama rehabilitasi. Bibit-bibit produktif seperti pohon mangga, durian, jati, dan mahoni disediakan untuk ditanam di luar kawasan hutan. Dengan cara ini, penghijauan tidak hanya memulihkan ekosistem tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kami percaya bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kerja sama semua pihak. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, perubahan tidak akan terjadi,” katanya.
Dengan komitmen yang kuat, Tuames yakin bahwa gerakan ini akan membawa perubahan nyata bagi NTT. Pelestarian alam bukan hanya solusi untuk masalah lingkungan, tetapi juga kunci membuka potensi ekonomi dan sosial yang selama ini belum tergarap optimal.
“Kita tidak sedang bicara tentang hari ini saja. Gerakan ini adalah investasi jangka panjang untuk generasi mendatang,” tutup Tuames dengan penuh keyakinan.
Dengan strategi berbasis kolaborasi, pendekatan ramah masyarakat, dan fokus pada manfaat jangka panjang, Dolfus Tuames dan BPDAS Benain Noelmina tengah menanam harapan baru di tanah NTT. Masa depan yang hijau, lestari, dan sejahtera kini bukan lagi impian—ini adalah tujuan yang sedang diwujudkan.

Tinggalkan Balasan