Kupang, — Di tengah gemuruh kehidupan kota, ada ruang sunyi yang kerap luput dari perhatian: kesedihan. Saat tawa reda dan air mata mengalir di rumah-rumah warga yang sedang berduka, sering kali mereka harus menghadapi kenyataan yang lebih pahit: beban ekonomi yang tak ikut mati bersama yang tercinta.
Biaya penguburan di Kota Kupang selama ini menjadi momok tersendiri bagi banyak keluarga kurang mampu. Untuk satu liang lahat, mereka harus merogoh kocek antara Rp2 juta hingga Rp5 juta—angka yang cukup untuk menyambung hidup sepekan, atau bahkan sebulan bagi sebagian warga. Di tengah kepedihan kehilangan, mereka masih harus memikul beban finansial yang berat.
Namun, kini secercah harapan muncul dari balik langit mendung duka itu.
“Kami Tidak Akan Membiarkan Warga Berjuang Sendiri di Tengah Kesedihan”
Demikian komitmen yang kembali ditegaskan oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dalam upaya Pemerintah Kota merealisasikan janji kampanye: tanah pemakaman dan jasa gali liang lahat gratis bagi warga tidak mampu.
“Kita sadar betul, musibah tak pernah beri kabar. Tapi ketika itu datang, negara—dalam hal ini Pemkot—tidak boleh absen. Kita hadir bukan hanya di hari suka, tapi terlebih di saat duka,” ujar dr. Christian dengan suara mantap dan mata yang memancarkan empati.
Langkah ini bukan hanya soal kebijakan administratif. Ini adalah manifes kemanusiaan. Sebuah upaya menjadikan negara lebih dari sekadar institusi, tapi lengan yang memeluk, bahu yang menopang, dan hati yang bergetar saat rakyatnya menangis.
Liang Lahat Gratis: Bukan Janji, Tapi Tanggung Jawab Sosial
Program ini tengah memasuki tahap realisasi dengan proses administrasi dan penyediaan lahan yang sudah mulai berjalan. Inisiatif ini bukan sekadar memenuhi janji politik, tetapi bentuk tanggung jawab moral dan sosial terhadap hak dasar warga: hak untuk dimakamkan dengan layak.
Tidak semua kematian membawa damai; bagi keluarga miskin, kematian bisa berarti utang baru. Dan Pemkot Kupang dengan kebijakan ini sedang memutus rantai ketidakadilan itu—bahwa mati pun tidak boleh mahal.
Dengan metafora yang sederhana namun menusuk, dr. Christian menyampaikan bahwa “negara bukan hanya hadir saat lampu panggung dinyalakan, tapi juga ketika tirai kehidupan mulai diturunkan.” Ketika warga berduka, pemerintah harus menjadi pelita terakhir yang menyinari langkah-langkah menuju peristirahatan terakhir.
Solidaritas yang Tak Mengenal Akhir Hidup
Kebijakan liang lahat gratis ini diharapkan menjadi awal dari kebijakan sosial lain yang berpihak pada mereka yang paling tak bersuara. Kota Kupang, yang selama ini dikenal dengan semangat kekeluargaan dan solidaritasnya, kini kembali menegaskan dirinya: bahwa keadilan sosial bukan hanya jargon, tapi kenyataan yang harus dirasakan sampai ke liang lahat.
“Semoga ini bisa meringankan beban Bapa Mama Basodara semua. Kita tidak pernah tahu kapan maut datang mengetuk, tapi kita bisa pastikan satu hal: warga Kupang tidak akan menghadapi itu sendirian,” tutup dr. Christian.
Karena sejatinya, ukuran keadilan sebuah kota bukan hanya dilihat dari bagaimana ia membangun jalan, tapi dari bagaimana ia mengantar warganya ke jalan terakhir dengan hormat dan belas kasih.

Tinggalkan Balasan