Kota Kupang, NTT — Di tengah ancaman kekurangan air yang kerap melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat curah hujan yang rendah, langkah konkret diambil untuk memastikan keberlanjutan alam dan kebutuhan masyarakat. Pada Sabtu, 13 Januari 2025, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memimpin penanaman serentak di Penkase, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Acara ini turut dihadiri oleh Anggota DPR RI Ahmad Yohan, Gubernur NTT, Penjabat Wali Kota Kupang, Wali Kota terpilih, dan Danrem.
Penanaman Pohon Sebagai Solusi Krisis Air
Kepala DAS Benain Nolemina, Kludolfus Tuames Noelmina, dalam penjelasannya menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya mengatasi kekurangan air yang sering terjadi saat musim panas, terutama di NTT yang memiliki curah hujan rendah. “Dengan penanaman pohon ini, kami berusaha memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan cadangan air tanah, yang sangat penting untuk mengatasi kekeringan saat musim kemarau panjang,” ujar Tuames.
Penanaman serentak ini mencakup 1.000 bibit pohon dari berbagai jenis, seperti cendana, asam, bambu, kemiri, dan jambu mete, yang diyakini dapat berkontribusi pada pemulihan lingkungan sekaligus menjaga pasokan air tanah yang lebih baik.
Kehadiran Adat dalam Aksi Lingkungan
Penyambutan Menteri Kehutanan dan rombongan dilakukan dengan upacara adat yang menandakan betapa eratnya hubungan antara masyarakat NTT dengan alam. Upacara ini menggambarkan penghormatan terhadap alam sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan dan budaya di wilayah tersebut.
Menanam Harapan untuk Masa Depan
Kegiatan penanaman ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga menanam harapan untuk masa depan yang lebih hijau dan sejahtera. Melalui aksi ini, Indonesia semakin menunjukkan tekadnya untuk mengatasi tantangan lingkungan, terutama di daerah dengan curah hujan rendah seperti NTT. Penanaman pohon hari ini adalah investasi untuk masa depan yang lebih hijau dan aman dari krisis air.

Tinggalkan Balasan