Obor Iman dari Oehonis: Dua Pendeta Suami Istri Melangkah Ke Tanah Suci

Oehonis,-Di sebuah sudut tenang Pulau Timor, ketika matahari menebar emas di punggung perbukitan dan nyanyian jemaat mengalun menembus langit TTS, sebuah peristiwa sakral terjadi di Gereja GMIT Jonathan Nubatonis. Tak sekadar ibadah, tetapi pelepasan rohani, bukan hanya simbol, tetapi pengutusan. Dua pendeta—sepasang suami istri—dilepas untuk menapaki jejak para nabi di Tanah Perjanjian: Mesir, Israel, dan Yordania.

Mereka adalah Pdt. Yunius Yoram Betty, M.Th., Ketua Klasis Soe Timur, dan sang istri, Pdt. Sri Refalina Lalangpuling, S.Th., Ketua Majelis Jemaat Lan Mane’at Lakat, Kabupaten TTS. Seperti Aquila dan Priskila dalam kisah Perjanjian Baru, pasangan ini bukan hanya sehati dalam cinta, tetapi sepanggilan dalam pelayanan. Mereka akan memulai perjalanan rohani pada 9 Mei 2025 dari Jakarta, dan menginjakkan kaki di tanah suci pada 11 Mei selama 11 hari—sebuah ziarah yang diharapkan mengembalikan kesegaran rohani, memperdalam pelayanan, dan menyalakan kembali pelita pewartaan di ladang kering pelayanan.

Dalam pernyataannya kepada media ini, Yonathan Nubatonis, pendiri gereja, menyampaikan bahwa ini adalah bagian dari program kerja gereja yang progresif dan profetik—memperkuat kualitas pelayanan rohani sembari mengangkat martabat ekonomi umat.

Dan memang, gereja ini bukan hanya tempat perjumpaan dengan Tuhan, tapi juga kebun kehidupan. Diresmikan oleh Gubernur NTT pada 31 Oktober 2022, Gereja GMIT Jonathan Nubatonis telah menjadi metafora nyata dari iman yang berakar dan berbuah. Di sekeliling rumah ibadah, bukan hiasan mewah, tetapi 1.500 pohon jeruk telah ditanam dan kini mulai berbuah. 100 pohon mangga menjanjikan musim panen, dan ratusan pohon pepaya telah menjadi bagian dari keseharian umat.

“Kami tidak hanya menabur firman, tapi juga benih di tanah. Kami tidak hanya membangun altar, tapi juga harapan,” ujar Yonathan melalui pesan WhatApp kepada media ini,Minggu 04 Mei 2025.

Yonathan menjelaskan bahwa lebih dari itu, gereja telah mendistribusikan 5 ekor sapi Paron kepada 5 kepala keluarga—bukan sekadar bantuan, tapi modal hidup, bentuk konkrit dari pelayanan yang membumi.

Dikatakan,kepergian dua pendeta ini adalah nyala baru dalam perjalanan gereja. Bagaikan obor yang diangkat ke atas gunung Sinai, perjalanan mereka akan menjadi terang bagi yang tinggal di lembah. Saat mereka berjalan di bawah bayang dinding Yerikho dan menapaki pasir di tepi Danau Galilea, roh pelayanan mereka diasah di tempat di mana kasih pernah mengalir dari salib.

Gereja GMIT Jonathan Nubatonis telah membuktikan, dari Oehonis yang sederhana, bisa lahir pelayanan yang agung. Dari ladang kering bisa tumbuh buah yang manis. Dan dari altar yang rendah hati bisa mengalir kuasa yang mengangkat umat.

Gereja ini bukan hanya membangun gedung—tetapi membangun kehidupan. Ia adalah jantung berdenyut dari semangat baru di NTT: bahwa gereja bisa dan harus menjadi pusat transformasi, tempat di mana doa, tanah, dan ternak bersatu dalam liturgi kehidupan.( Arnold)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *