Kupang,– Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) W Z Yohanes Kupang hari ini bukannya merawat pasien, malah merawat luka hati para tenaga kesehatan (nakes). Aksi mogok massal yang digelar para nakes bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan amuk kesabaran yang telah mencapai titik didih. Penyebab adalah Potongan gaji 50% untuk jasa medis yang mereka nilai tak adil dan cenderung aroma korupsi.
Para pahlawan garis depan ini, yang setiap hari berjibaku dengan nyawa pasien, kini justru berjuang melawan ketidakadilan sistemik. Mereka menuding adanya diskriminasi yang nyata: gaji nakes dipotong separuh, sementara dokter—yang seharusnya menjadi garda terdepan bersama mereka—terlihat aman sentosa tanpa potongan berarti.
“Ini bukan soal uang semata, Pak! Ini soal harga diri dan keadilan!” teriak seorang perawat dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan amarah. Ia mewakili ratusan nakes yang rela meninggalkan tugas demi menyuarakan protes mereka.
Ketidakjelasan mekanisme pemotongan gaji semakin menambah bara kemarahan. Transparansi? Sebuah kata yang asing di RSUD WZ Yohanes Kupang. Para nakes menuntut audit keuangan menyeluruh untuk mengungkap kemana 50% gaji mereka lenyap. Dugaan korupsi pun menggema di tengah kemelut ini.
Menanggapi aksi ini, Plt Direktur RSUD Prof. W.Z. Johannes Kupang, drg. Lien Adriany, menegaskan bahwa tidak ada pemotongan jasa untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, penurunan pendapatan jasa terjadi akibat beberapa faktor, salah satunya adalah jumlah hari kerja yang lebih sedikit pada Desember 2024 karena banyaknya hari libur.
Dalam penjelasan singkatnya di hadapan para nakes yang mogok, Plt Direktur RSUD Prof. W.Z. Johannes Kupang, drg. Lien Adriany, menegaskan bahwa tidak ada pemotongan jasa untuk kepentingan pribadi. Namun, Ia hanya mengungkap faktor penurunan pendapatan jasa, yaitu jumlah hari kerja yang lebih sedikit pada Desember 2024. Kejelasan mengenai mekanisme pemotongan dan alasan di baliknya masih menjadi misteri.
Pertanyaannya, sampai kapan pemerintah daerah akan membiarkan para pahlawan kesehatan ini berjuang sendirian melawan ketidakadilan? Mungkinkah ini hanya puncak gunung es dari praktik-praktik korup yang lebih besar? Investigasi menyeluruh menjadi harga mati untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Tinggalkan Balasan