Kupang,— Bank NTT resmi memiliki jajaran direksi dan komisaris baru setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur, Rabu (12/11). Rapat yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menandai awal babak baru transformasi bank kebanggaan masyarakat NTT itu menuju lembaga keuangan yang lebih sehat, modern, dan berpihak pada pembangunan ekonomi daerah.
RUPS dihadiri oleh Wali Kota Kupang, para bupati se-Nusa Tenggara Timur, serta perwakilan pemegang saham dari seluruh daerah. Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui pemberhentian pengurus lama dan pengangkatan direksi baru yang telah memperoleh penilaian dan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Formasi Baru Direksi dan Komisaris
Berdasarkan keputusan RUPS, Charlie Paulus ditetapkan sebagai Direktur Utama Bank NTT, didampingi oleh Rahmat Saleh sebagai Direktur Umum dan SDM, serta Alo Geong sebagai Direktur Kredit. Sementara jabatan Direktur Dana dan Treasury diisi oleh Heru, dan posisi Direktur Kepatuhan untuk sementara tetap dijabat oleh Chris Adu sampai proses perubahan disetujui OJK.
Adapun dua posisi lainnya — Direktur Dana dan Direktur IT — masih menunggu persetujuan atas usulan nama Umbu Praing.
Untuk jajaran komisaris, Dony Haetubun ditetapkan sebagai Komisaris Utama, sementara posisi komisaris lainnya tengah dalam tahap finalisasi.
Gubernur Melki menjelaskan, malam ini juga akan diterbitkan Surat Keputusan Gubernur untuk pengangkatan direksi baru, dan pelantikan akan digelar besok pagi (13/11) guna mencegah kekosongan kepemimpinan.
“Kami ingin Bank NTT bergerak cepat. RUPS ini bukan hanya soal pengurus baru, tapi tentang arah baru. Kita ingin Bank NTT menjadi bank pembangunan daerah yang benar-benar berdaya dan dipercaya masyarakat,” ujar Melki.
Arah Baru: Fokus ke Sektor Produktif dan UMKM
Dalam keterangan pers usai rapat, Direktur Utama Bank NTT yang baru, Charlie Paulus, menyampaikan komitmennya untuk memperkuat peran Bank NTT sebagai motor penggerak ekonomi lokal.
“Selama ini portofolio kredit konsumtif cukup dominan, sementara kredit produktif masih rendah. Ke depan, kami akan menggeser fokus pembiayaan ke sektor-sektor komersial dan produktif, terutama bagi UMKM,” ujarnya.
Charlie menegaskan, Bank NTT akan memperluas pembiayaan untuk usaha kecil dan menengah, pertanian, perikanan, dan pariwisata — sektor-sektor unggulan yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Bank NTT dan pemerintah daerah.
“Saya akan turun langsung ke seluruh kabupaten, berdialog dengan bupati dan kepala cabang untuk mengidentifikasi potensi industri dan bisnis lokal. Setiap daerah punya kekuatan berbeda, dan Bank NTT harus hadir untuk memperkuat itu,” tegasnya.
Program Baru: Pembiayaan untuk Pengusaha Perempuan
Salah satu inisiatif awal yang diluncurkan Charlie adalah program “Women Entrepreneur”, yaitu skema pembiayaan khusus bagi pengusaha perempuan di sektor pariwisata, kuliner, kerajinan, dan tenun.
“Kami ingin menjadikan NTT sebagai daerah pertama di Indonesia yang memiliki fokus khusus pada pembiayaan pengusaha wanita. Berdasarkan data kami, tingkat kredit macet dari nasabah perempuan justru lebih rendah. Ini peluang besar yang harus kita dorong,” ungkapnya.
Target Laba 2026 dan Optimisme Baru
Manajemen baru Bank NTT menargetkan laba bersih tahun 2026 sebesar Rp260 miliar, naik sekitar 28 persen dibanding tahun sebelumnya. Charlie optimistis target tersebut dapat tercapai melalui penguatan tata kelola, efisiensi operasional, dan inovasi produk keuangan digital.
“Dengan dukungan penuh dari para pemegang saham, pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat NTT, kami yakin Bank NTT akan tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih relevan bagi kebutuhan pembangunan ekonomi daerah,” katanya menutup pernyataan.
RUPS kali ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan Bank NTT, yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan besar dalam hal profitabilitas dan tata kelola. Dengan komposisi direksi baru dan arah bisnis yang lebih terukur, Bank NTT diharapkan mampu menegaskan kembali perannya sebagai pilar ekonomi daerah sekaligus ikon transformasi bank pembangunan daerah di Indonesia Timur.
Pergantian direksi Bank NTT ini menandai fase baru dalam perjalanan bank milik daerah tersebut, seiring dengan meningkatnya dorongan pemerintah untuk menjadikan BPD lebih mandiri, transparan, dan pro-pertumbuhan.
—

Tinggalkan Balasan