Soe,– Misteri hilangnya perabotan dan perlengkapan rumah jabatan (Rujab) tiga pimpinan DPRD Timor Tengah Selatan (TTS) bak kisah hantu yang gentayangan di tengah gelapnya birokrasi. Lemari, sofa, TV, WiFi, AC, hingga gorden lenyap tanpa jejak, menyisakan rumah jabatan yang kosong melompong—seolah-olah ditinggalkan begitu saja oleh peradaban.
Sorotan tajam datang dari Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD TTS, Hendrikus B. Babys alias Heba, yang dengan sinis bertanya: “Ini perabotan dibawa manusia atau diciduk jin?” Sindiran ini bukan sekadar lelucon, melainkan tamparan keras atas bobroknya pengelolaan aset daerah.
“Saya sangat menyesalkan pelayanan Sekwan terhadap pimpinan baru. Rumah jabatan seharusnya siap dihuni, tetapi faktanya kosong melompong, seperti rumah tak bertuan. Tolong jelaskan, siapa yang ambil semua aset ini? Masa kita harus percaya kalau semua ini dibawa setan atau jin?” – Heba
Barang yang hilang bukan barang pribadi, melainkan aset daerah yang dibiayai dari uang rakyat. Aturan tegas mengikatnya—aset negara tidak bisa dipindahkan sembarangan tanpa prosedur resmi. Namun, kenyataannya, barang-barang ini menguap begitu saja.
Kecaman makin memanas setelah Doni Tanoen, tokoh masyarakat yang dikenal vokal, mendesak Bupati TTS segera mengaudit pengelolaan aset dan mencopot Sekwan, Alberth D.I. Boimau. Ia menilai kelalaian ini bukan sekadar kesalahan administratif, tetapi pengabaian total terhadap amanah rakyat.
“Sejak 2019, setiap pergantian pimpinan DPRD, rumah jabatan selalu kosong. Ini aset negara, bukan barang habis pakai! Lalu, di mana berita acara serah terimanya? Jangan-jangan, ini bukan sekadar kelalaian, tetapi ada modus tertentu di baliknya!” – Doni Tanoen
Tudingan ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa tidak pernah ada berita acara serah terima aset setiap kali pergantian pimpinan DPRD. Padahal, setiap rupiah yang digunakan untuk membeli aset tersebut berasal dari APBD—dana yang dikumpulkan dari pajak rakyat!
Doni menegaskan bahwa Sekwan harus bertanggung jawab penuh. Jika tidak bisa mengelola aset dengan baik, lebih baik mundur!
“Kalau Sekwan tak mampu menjaga aset negara, lebih baik dicopot saja! DPRD ini lembaga terhormat, bukan tempat main-main dengan barang negara.”
Sekwan Bungkam, Pimpinan DPRD Pasrah
Saat dihubungi, Sekwan Alberth D.I. Boimau hanya memberikan jawaban normatif tanpa solusi konkret. Dengan nada santai, ia mengatakan:
“Ya, kalau terkait aset rumah jabatan DPRD itu, secara manusia pasti ada kurang-kurangnya. Saya berharap bisa dipahami bersama, dan ke depan akan kami benahi perlahan-lahan.”
Jawaban ini justru semakin memicu kemarahan publik. Bagaimana mungkin aset negara bisa hilang begitu saja, lalu hanya dijawab dengan “kurang-kurangnya” tanpa tindakan nyata?
Sementara itu, Ketua DPRD TTS, Mordekai Liu, serta dua wakilnya, Yoksan Benu dan Arsianus Nenobahan, memilih sikap pasrah. Mereka mengaku tidak akan menuntut banyak dan akan menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
“Kami tidak menuntut karena saat ini sudah tinggal di Rujab. Apa yang menjadi kebutuhan kami dan tidak ada, ya kami bisa bawa sendiri,” ujar Mordekai Liu.
Namun, apakah sikap pasrah ini adalah solusi? Bukankah ini justru membuka ruang bagi pengelolaan aset yang semakin amburadul di masa depan?
Hilangnya aset negara bukan sekadar masalah kecil. Ini adalah bukti betapa lemahnya pengawasan dan manajemen aset di DPRD TTS. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terus terulang, dengan uang rakyat yang terus-menerus “raib” tanpa pertanggungjawaban!
Rakyat TTS menuntut:
1. Audit khusus oleh Inspektorat Kabupaten TTS terhadap seluruh aset DPRD.
2. Penyelidikan dan transparansi mengenai keberadaan aset yang hilang.
3. Tindakan tegas terhadap Sekwan jika terbukti lalai atau ada unsur penyalahgunaan.
Kasus ini bukan hanya tentang sofa atau AC yang hilang, tetapi tentang kepercayaan rakyat yang terkikis oleh buruknya tata kelola pemerintahan. Apakah kasus ini akan berakhir begitu saja? Atau justru akan membuka kotak Pandora bobroknya sistem pengelolaan aset di TTS?( Tim)

Tinggalkan Balasan