SUMBA TIMUR – Wabah African Swine Fever (ASF), penyakit mematikan yang menyerang babi, kini menghantui Sumba Timur. 40 ribu ekor babi dilaporkan terserang virus sejak tahun 2024, dan angka itu terus bertambah. Virus ganas ini telah menyebar di 22 kecamatan, meninggalkan peternak dalam bayang-bayang kehancuran ekonomi.
“Ini sudah gelombang keempat ASF menyerang Sumba Timur. Ganas sekali! Puluhan ribu babi terancam musnah, sementara vaksin masih belum ada,” ujar drh. Samuel Rundi, Plt. Dinas Peternakan Sumba Timur, dengan nada prihatin, Selasa (21/1/2025).
Ciri-ciri babi terserang ASF meliputi demam tinggi, leher memerah, tubuh muncul bintik kebiruan, hingga limpa membengkak. Virus ini tidak main-main, babi yang sakit bisa menjadi bom waktu yang menyebarkan wabah ke ternak lain.
“Kami kehilangan kendali karena banyak peternak enggan melapor. Bangkai babi yang tidak dikubur dengan benar memperparah penyebaran virus ini,” tambah Samuel.
Wabah ASF ini tak hanya menyerang babi, tetapi juga menghantam ekonomi masyarakat. Kerugian ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah, meninggalkan peternak di ambang kehancuran.
“ASF ini lebih dari sekadar wabah. Ini ancaman besar bagi populasi ternak dan perekonomian Sumba Timur. Jika tidak ada langkah konkret, kita akan kehilangan puluhan ribu ekor babi, bahkan mungkin seluruh populasi!” tegasnya.
Hingga kini, dunia belum menemukan vaksin yang efektif untuk melawan ASF. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah memutus rantai penyebaran dengan menjaga kebersihan kandang, membakar atau mengubur bangkai secara aman, dan mengisolasi ternak yang sakit.
Samuel mendesak pemerintah pusat dan lembaga penelitian untuk memberikan perhatian khusus terhadap wabah ini. Menurutnya, tanpa vaksin atau langkah konkret yang lebih kuat, dampak ASF akan terus menghancurkan sektor peternakan di Indonesia, khususnya di wilayah NTT.
“Kami butuh solusi nyata! Wabah ini tidak boleh diabaikan. Sumba Timur butuh bantuan segera untuk menyelamatkan peternakan rakyat!” pungkas Samuel.
Kini, mata dunia tertuju pada Sumba Timur, menanti langkah-langkah berani yang bisa menyelamatkan masa depan ternak babi di wilayah ini. Apakah pemerintah akan mengambil tindakan cepat? Ataukah masyarakat akan terus dibiarkan bertarung sendirian melawan wabah yang mematikan ini?

Tinggalkan Balasan