Malam Natal yang seharusnya penuh kedamaian berubah menjadi mimpi buruk bagi Aris Sakan, warga Desa Muke, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, NTT. Niat baiknya untuk menegur anak-anak yang bermain meriam kaleng malah berujung pada penganiayaan hingga ia terluka parah.
Peristiwa ini terjadi pada 25 Desember 2024, sesaat setelah Aris pulang dari kebaktian malam Natal di Gereja Sanam, Desa Muke. Saat itu, ia melihat sejumlah anak bermain meriam kaleng di sekitar rumahnya. Salah satu ledakan meriam bahkan diarahkan ke arah anak Aris, sehingga ia mencoba menegur mereka.
Namun, teguran tersebut memicu kemarahan orang tua salah satu anak yang terlibat. Adu mulut pun terjadi, dan berakhir dengan Aris dianiaya hingga mengalami luka di wajah yang mengeluarkan darah.
Korban kemudian melaporkan kejadian ini ke Polsek Oemofa dan mendapatkan perawatan di Puskesmas Oenuntono. Awalnya, ada upaya damai yang disepakati dengan kompensasi Rp2.500.000. Namun, kesepakatan itu batal setelah keluarga pelaku mengaku tidak memiliki uang.
Merasa tidak ada keadilan, korban dan keluarganya memilih melanjutkan laporan ke polisi. Hingga kini, pihak Polsek Oemofa belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan kasus ini.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bahwa konflik kecil bisa berujung pada insiden serius jika tidak diselesaikan dengan baik. Diharapkan pihak berwenang segera menindaklanjuti kasus ini untuk memberikan keadilan bagi korban.(***)

Tinggalkan Balasan