“Telur Mahal, Rakyat Menjerit: Siapa Peduli?”

Kefamenanu – Tahun baru 2025 di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dibuka dengan beban berat bagi masyarakat. Harga telur ayam ras melambung tinggi, mencapai Rp390 ribu per ikat atau Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per rak. Lonjakan harga ini memukul daya beli masyarakat sekaligus membuat pedagang tak berkutik.

Maria, seorang ibu rumah tangga asal Desa Banain, Kecamatan Bikomi Utara, mengaku kesulitan mengatur kebutuhan rumah tangganya sejak harga telur naik. Baginya, telur adalah kebutuhan pokok yang hampir tak tergantikan.

“Biasanya kami bisa beli satu rak untuk seminggu. Sekarang, untuk beli setengah rak saja terasa berat. Harga naik, pendapatan tetap. Apa yang harus kami lakukan? Pemerintah harus peduli dan segera bertindak,” ujar Maria dengan nada penuh kekecewaan.

 

Pedagang: “Kami Juga Korban”

Di sisi lain, pedagang di Pasar Rakyat Kefamenanu seperti Anton mengungkapkan situasi yang tak kalah sulit. Harga telur dari distributor yang terus naik memaksa mereka menaikkan harga jual, meski tahu konsekuensinya adalah penurunan daya beli masyarakat.

“Harga dari distributor sudah mahal, kami mau tidak mau ikut naikkan harga. Tapi, pembeli malah makin sedikit. Kami sebenarnya tidak untung banyak, malah kadang rugi karena stok tidak habis,” ungkap Anton dengan wajah penuh keprihatinan.

 

Anton menjelaskan, lonjakan harga ini mulai terjadi sejak pertengahan Desember 2024. Permintaan tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai, sehingga harga meroket.

Harapan yang Tak Kunjung Terjawab

Kondisi ini membuat warga seperti Maria hanya bisa berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga. Bukan sekadar janji, tetapi aksi nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kecil.

“Kami ini cuma rakyat kecil. Kalau harga seperti ini terus, bagaimana kami mau hidup layak? Tolong pemerintah jangan tutup mata,” tambah Maria dengan nada getir.

 

Sementara itu, Anton berharap ada solusi untuk memastikan distribusi telur lebih merata dan harga kembali wajar. Ia menilai pemerintah perlu memprioritaskan kebijakan yang melindungi masyarakat kecil dari fluktuasi harga bahan pokok.

Kenaikan harga telur ayam ras ini bukan sekadar angka di pasar, tetapi cerita tentang perjuangan masyarakat menghadapi kerasnya realitas ekonomi. Kini, semua mata tertuju pada pemerintah Kabupaten TTU untuk menghadirkan solusi nyata, sebelum krisis ini menggulung lebih banyak pihak yang tak bersalah.

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *