Theo Widodo: Bangun Atletik NTT Lewat Kejurda yang Visioner dan Berdampak

Kupang – Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menggelar Kejuaraan Daerah (Kejurda) Atletik 2025 pada 21–23 Agustus mendatang di Stadion Oepoi, Kupang. Kegiatan tahunan ini tak hanya menjadi panggung pembinaan atlet potensial daerah, tetapi juga menjadi bagian dari seleksi menuju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik di Solo pada 31 Agustus–7 September 2025.

Ketua Umum PASI NTT, Ir. Theodorus Widodo, menegaskan bahwa Kejurda merupakan kewajiban tahunan yang harus dipenuhi oleh pengurus provinsi demi kesinambungan pembinaan atlet.

“Ini tahun ketiga kami selenggarakan secara konsisten. Kejurda menjadi sarana strategis dalam menjaring dan menyiapkan bibit unggul dari NTT untuk tampil di level nasional, bahkan internasional,” ujar Theodorus dalam konferensi pers di Stadion Oepoi, Rabu (30/7/2025).

Tak Sekadar Lomba, Ada Coaching Clinic dan Apresiasi PB PASI

Kejurda tahun ini tidak hanya berisi pertandingan atletik, tetapi juga dirangkaikan dengan coaching clinic bagi pelatih dan pengurus guna meningkatkan kapasitas pembinaan di daerah. Menurut Theodorus, kegiatan ini menjadi bagian dari pendekatan menyeluruh dalam membangun ekosistem olahraga yang solid.

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa kepengurusan PASI NTT dipercaya oleh Pengurus Besar PASI untuk terlibat dalam tim penjaringan calon Ketua Umum PB PASI periode mendatang. Bahkan, PASI NTT mendapat undangan khusus untuk mengikuti kunjungan studi ke Shanghai, Tiongkok, guna mempelajari sistem pelatihan dan infrastruktur atletik.

“Ini suatu kehormatan besar bagi kami. Artinya, kontribusi dan komitmen NTT dalam dunia atletik mendapat pengakuan di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Theodorus.

Format Berjenjang, Seleksi Terbuka, dan Partisipasi Luas

Kejurda Atletik NTT 2025 akan membuka empat kategori usia, yakni U-16, U-18, U-20, dan Senior. Setiap kelompok usia akan berkompetisi di berbagai nomor lomba seperti sprint, lari jarak menengah, jarak jauh, jalan cepat, dan nomor lapangan.

Ketua Harian PASI NTT, Dr. Frans Sales, menegaskan bahwa sistem seleksi dilakukan secara terbuka dan objektif.

“Ini bagian dari manajemen olahraga yang sehat. Semua hasil bisa dilihat secara transparan. Tidak ada sistem tertutup. Kami ingin proses ini menjadi fondasi pembinaan jangka panjang,” jelas Frans.

Dorong Sport Industry: Tiket Berbayar, UMKM Dilibatkan

Membawa pendekatan baru, Kejurda kali ini juga mengusung konsep sport industry. Penonton diwajibkan membeli tiket masuk, sementara pelaku usaha lokal diberikan ruang untuk menjajakan produk seperti merchandise, makanan, hingga perlengkapan olahraga.

Peserta lomba juga dikenakan kontribusi sebesar Rp100.000 per nomor sebagai bentuk dukungan terhadap pembiayaan operasional kejuaraan.

“Kami ingin Kejurda menjadi bagian dari perputaran ekonomi olahraga lokal. Ini bukan sekadar mencari juara, tapi juga menghidupkan industri olahraga di daerah,” kata Frans.

Inovasi Waktu Pelaksanaan: Pertandingan Digelar Sore hingga Malam

Untuk meningkatkan partisipasi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum, seluruh pertandingan akan dilangsungkan pada sore hingga malam hari. Inovasi ini diharapkan mampu memperluas akses dan partisipasi publik.

“Kompetisi juga bagian dari pendidikan. Kami ingin pelajar merasakan atmosfer kejuaraan, karena pembinaan tidak bisa dipisahkan dari kompetisi,” tutur Frans.

Dorong Kolaborasi Daerah: Kreativitas Jadi Kunci

Meski masih menghadapi tantangan logistik dan anggaran di beberapa kabupaten/kota, PASI NTT terus mendorong pengurus daerah agar aktif menjalin kemitraan dan memanfaatkan potensi lokal untuk mendukung partisipasi atlet.

“Kami terbuka terhadap semua bentuk kerja sama. Teman-teman di kabupaten/kota harus proaktif agar atlet-atlet mereka bisa berkembang dan tampil di panggung lebih tinggi,” imbuh Frans.

Bangun Tata Kelola Modern, Menuju Prestasi Berkelanjutan

Kejurda Atletik NTT 2025 digadang-gadang bukan sekadar agenda tahunan, melainkan tonggak penting dalam pembangunan tata kelola olahraga yang modern, transparan, dan berdampak luas.

“Ini bagian dari revolusi pembinaan atletik. Kita sedang membangun sistem, bukan hanya menggelar acara,” tutup Frans.

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *